Jumat, 27 Mei 2011

PTK BAHASA INDONESIA


UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA DALAM HATI DENGAN PENDKATAN KOMUNIKATIF PADA SISWA KELAS VI SD MELALUI METODE RESITASI

Oleh: ADE FIRMANSYAH
SD Negeri Gunungputri 2
Kecamatan Banjar

ABSTRAK
Pembelajaran Bahasa Indonesia sangat penting dan mendasar untuk dikuasai dan diminati dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Namun kenyataannya antusias siswa termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek membaca sangat rendah. Rendahnya prestasi tersebut terjadi pada siswa kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Desa Gunungputri Kecamatan Banjar Kabupaten Pandeglang terbukti dari hasil ulangan formatif atau sumatif menunjukkan rata-rata dibawah 60%. Sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia termasuk pada pembelajaran pokok.
Untuk mengatasi masalah tersebut, dapat diupayakan melalui peningkatan kemampuan membaca dalam hati dengan pendekatan komunikatif melalui metode Resitasi.  Dengan menggunakan pendekatan komunikatif melalui metode Resitasi tersebut adalah salah satu alternatif upaya meningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menciptakan situasi pembelajaran berpusat pada anak dan berorientasi pada proses mengembangkan kemampuan komunikasi pada aspek kebahasaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan komunikatif melalui  metode resitasi, dimana dilakukan melalui 2 siklus dapat disimpulkan sebagi berikut ; a). Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup sinifikan., peningkatannya yaitu 28,56% pada pertemuan pertama dan 53,55% pada pertemuan kedua di  siklus I, dan 70,55% pada pertemuan terakhir (ke tiga)  82,11% di siklus II.     b). Hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatif banyak peningkatan baik dalam ketuntasan belajar maupun hasil belajar.  Hal ini didasari pada tingkat ketuntasan belajar 86,66% di siklus I dan 100 % di siklus II. Sedangkan nilai rata-rata kelas dalam pemahaman membaca dalam hati  yaitu 78,09 di siklus I dan 86,38 di siklus II.



PENDAHULUAN
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi) saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain dengan meningkatkan kemampuan intelektual mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan keterampilan berbahasa.
Sesuai dengan kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional dan Bahasa Negara, maka fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah :
1. Sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa.
2. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
3. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa untuk meraih dan pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.
4. Sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah dan sarana pengembangan penalaran pembelajaran Bahasa Indonesia tersebut mencakup empat aspek, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut sebaiknya mendapat posisi yang seimbang.
        Pembelajaran Bahasa Indonesia sangat penting dan mendasar untuk dikuasai dan diminati dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Namun kenyataannya antusias siswa  termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar  pada aspek membaca sangat rendah.
        Rendahnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar  dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain  kurang antusiasnya siswa dalam belajar membaca dan kelemahan guru dalam menggunakan pendekatan/strategis belajar mengajar bahasa intosi yang kurang tepat baik metode maupun penggunaan metode  kurang, serta  guru sangat dominan pembelajaran terpusat pada guru sedangkan siswa pasif.
Untuk mengatasi masalah tersebut,  penulis  akan memberikan gambaran bagaimana upaya guru dalam kegiatan belajar mengajar  membaca dalam hati pada siswa sekolah dasar dengan pendekatan komunikatif.
Dengan menggunakan pendekatan komunikatif  diharapkan  dapat meningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menciptakan situasi pembelajaran berpusat pada anak dan berorientasi pada proses mengembangkan kemampuan komunikasi pada aspek kebahasaan.
Berdasarkan pada masalah-masalah yang penulis kemukakan di atas, maka penulis menetapkan judul makalah adalah “Pendekatan Komunikatif  Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Di  Sekolah Dasar”
.
METODOLOGI
Faktor yang diteliti  dalam penelitian ini adalah pemahaman dan hasil belajar melalui aktifitas kelas dan hasil belajar pada pembelajaran membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia  di kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan Banjar
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pretes, dan postes pada tiap siklus dan dilengkapi jurnal harian ( catatan harian).
Seluruh kegiatan dalam proses pembelajaran tidak semuanya tercantum dalam lembar observasi. Oleh karena itu dilengkapi lagi dengan jurnal harian/catatan harian yang merupakan alat bantu perekam yang paling sederhana. Perilaku khusus siswa di guru maupun permasalahan yang dapat dijadikan pertimbangan bagi pelaksanaan langkah-langkah berikutnya bisa dicatat dalam jurnal harian tersebut. Dalam jurnal inipun dimasukan  catatan mengenai kegiatan guru  yang berlangsung di kelas.
Data tes hasil belajar Bahasa Indonesia  pada pembelajaran membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi berupa data kuantitatif yang diperoleh melalui pretes sebelum diadakan tindakan pada masing-masing siklus dan postes setelah berakhirnya tindakan  setiap siklus baik di suklus I  maupun siklus II. Hal ini dimaksudkan agar setiap berakhirnya  di setiap siklus dapat diketahui kemajuan perkembangan yang didapat oleh siswa membaca dalam melalui pendekatan komunikatif . Data hasil tes tersebut bisa dijadikan acuan, pertimbangan, bahan refleksi, untuk merencanakan pelaksanaan pada siklus berikutnya.  Perlu diketahui bahwa soal yang diberikan  sebagai alat untuk mengetahui hasil belajar ini, sudah mengalami validasi dengan guru kelas VI lainya di SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan/Kabupaten Banjar.
         Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan yaitu  menilai hasil tidakan dengan menggunakan lembar observasi, dan tes kemampuan pemahaman terhadap isi wacana dengan  membaca dalam hati pretes dan postes serta membadingkan perolehan skor antara pretes dan postes tersebut untuk mengetahui  seberapa besar peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa. Adapun lembar observasi memuat hal-hal yang dilakukan siswa tentang aktivitas dan keaktifannya. Aktivitas yang diamati diantaranya adalah; bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan guru atau teman sekelas, menyanggah dan mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan
Pelaksanaan observasi ini dibantu pula dengan alat bantu sederhana yaitu jurnal harian. Jurnal harian ini meupakan catatan harian sehingga dapat berfungsi sebagai rekaman pengamatan yang sangat efektif. Dalam jurnal harian memuat catatan-catatan yang terjadi selam proses pembelajaran yang berlangsung dalam satu kali pertemuan.
 Setelah selesai tindakan dilakukan pada siklus I, selanjutnya diadakan kegiatan refleksi yang bertujuan sebagai evakuasi dari tindakan tersebut yaitu mengkaji apa yang telah dan atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil  dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Selain itu,  pada kegiatan refleksi ini diadakan pertemuan bersama kolabulator  dan partisipan untuk membahas hasil evaluasi tentang RPP, LKS dan lain-lain.

HASIL PENELITIAN
      Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan hasil implementasi dari kegiatan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatifdalam  upaya meningkatkan pemahaman dan hasil belajarmembaca dalam hati pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan Banjar di semester genap tahun ajaran 2008/2009.
       Pelaksanaan penelitian ini terbagi menjadi 2 siklus. Siklus I  terdiri dari 2 kali pertemuan, dan siklus II terdiri dari 1 kali pertemuan. Di awal setiap siklus I pada pertemuan pertama diadakan pretes I dan postes I pada akhir pertemuan pertam, dan pada siklus I pertemuan kedua di akhir siklus I dilakukan postes II setelah proses pembelajaran berlangsung atau setelah di beri tindakan. Jenis soal, jumlah soal dan lamanya penegjaan dari pretes dan postes adalah sama. Dengan demikian dari hasil pretes dan postes tersebut baik di siklus I maupun siklus II dapat terlihat seberapa besar peningkatan pemahaman dan hasil belajar siswa membaca dalam hati melului pendekatan komunikatif dengan metode resitasi

Pelaksanaan Siklus I
       Pada pertemuan pertama di siklus I, yaitu hari Rabu Tanggal 11. Februari 2009 dilakukan proses pembelajaran yang mengacu kepada RPP yang telah disiapkan, diawali penjelasan guru pentingnya belajar membaca dalam hati , yang dibantu dengan menampilkan wacana dalam buku pelajaran bahasa Indonesia,  siswa mnmenyimak penjelasan guru ,sehingga siswa  mempunyai gambaran pengenai pembahasan materi pembelajaran yaitu membaca dalam hati  yang akan diajarkan guru.
         Selanjutnya guru membagi kelompok, kemudian memberikan materi pembelajaran tentang membaca dalam hati. Melalui diskusi kelompok siswa membahas masalah yang terjadi dari hasil pembahasan guru.

1. Aktivitas Belajar
        Untuk mengetahui pemahaman yang dicapai siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung diamati beberapa aktivitas siswa, diantaranaya aktivitas dalam memperhatikan lisan maupn tulisan pada saat mengejakan soal di papan tulis, Pada pertemuan pertama ini belum nampak adanya aktivitas siswa yang mencolok, namun siswa lebih cenderung penjelasan guru, bertanya kepada guru , menjawab pertanyaan baik untuk memperhatikan penjelasan guru, melihat gambar-gambar yang ditampilkan guru.
         Berdasarkan dari data lembar observasi, diperoleh 15 orang siswa ( 50 % ) memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru, 6 orang siswa ( 20 % )  yang aktivitas dalam pembahasan tugas 12 orang siswa ( 40% ) Mendengarkan penjelasan ketua kelompok 18  orang siswa ( 60 % )  tanya jawab dalam kelompok 12 0rang siswa ( 40 % ) Peran aktif dalam kelompok 6 orang siswa ( 20 % ) , adanya anggota kelompok berperan aktif dalam pembahasan 6 orang siswa ( 20 % ) adanya respon siswa menyambut pertanyaan guru 15 orang siswa ( 50 %) . Prosentase aktivitas siswa seca keseluruhan pada siklus I pertemuan pertama mencapai 53,55%
         Pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari Kamis  Tnggal 14 Februari 2009, Guru melakukan kegiatan preses belajar mengajar yang mengacu pada RPP yang telah  dipersiapkan. Guru membahas materi pembelajaran yaitu tentang membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatuf.
          Berdasarkan dari data lembar observasi, diperoleh 28 orang siswa ( 93 % ) memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru, 24 orang siswa ( 80 % )  yang aktivitas dalam pembahasan tugas 24 orang siswa ( 80% ) Mendengarkan penjelasan ketua kelompok 23 orang siswa ( 76 % )  tanya jawab dalam kelompok 23 0rang siswa ( 76 % ) Peran aktif dalam kelompok 23 orang siswa ( 76 % ) , adanya anggota kelompok berperan aktif dalam pembahasan 18 orang siswa ( 60 % ) adanya respon siswa menyambut pertanyaan guru 15 orang siswa ( 50 %) .  Prosesentase aktivitas belajar siswa secara keseluruhan pada kegiatan siklus I pertemuan kedua mencapai 70,55%

2. Hasil Belajar membaca dalam hati
          Pada awal kegiatana penelitian, sebelum pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus I, yaitu pada hari Rabu tanggal 11 Februari 2009, siswa diberikan tes awal berupa pretes I  yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diadakan proses pembelajaran tentang pemahaman membaca dalam hati  . Hasil pretes I ternyata diperoleh skor nilai rata-rata 57,1 dan prosentase ketuntasan belajar sebesar 53,33%, yaitu 16 orang  siswa yang sudah tuntas dari 30 siswa.
        Walaupun demikian skor nilai ini masih dianggap wajar, karena memang belum diajarkan ( belum dilakukan proses pembeljaran di kelas, tetapi siswa hanya belajar sendiri dari buku sumber tanpa adana penjelasan  dari guru
Berdasarkan hasil pretes I yang diperoleh, yaitu ketuntasan belajar hanya 53,33 %, maka dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam melakukan suatu upaya untuk meningkatkan  kemampuan membaca dalah hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi.
         Setelah proses pembelajaran yang berlangsung di siklus I sebanyak 1 kali pertemuan, maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar  setelah diberi tindakan, siswa diberikan postes I yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Februari  2009. Berdasarkan hasil dari postes I diperoleh skor nilai rata-rata 60,80 dan prosentse ketuntasan belajar mencapai 60 % yaitu sebanyak 18 siswa yang sudah tuntas dan 12 orang siswa yang belum tuntas
          Setelah proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus I pertemuan kedua, maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar setelah dilakukan tindakan, siswa diberikan postes II
          Berdasarkan hasil dari postes II diperoleh skor nilai rata-rata 78,83 dan prosentse ketuntasan belajar mencapai 86,66 % yaitu sebanyak 26  siswa yang sudah tuntas dan 4  orang siswa yang belum tuntas.

3. Refleksi
       Secara kseluruhan aktivitas belajar di siklus I meningkat dari 53,55 % menjadi 70,55%, Dan aktivitas kelas termasuk katagori aktif, ( aktivitas kelas sudah berkisar 50% - 75 % ). Namun masih ada beberapa  jenis aktivitas yang masih dianggap rendah, yaitu aktivitas dalam hal menyambut pertanyaan guru. Oleh karena itu  masih perlu ada pendekatan guru terhadap  siswa untuk bisa merangsang atau menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa dengan cara belajar yan maksimal dan menjelaskan hal ini masih sedang tarap belajar.
        Adapaun hasil belajar yang diperoleh melalui postes I, setelah berakirnya pembelajaran pada pertemuan pertama  di siklus I, diperoleh skor nilai rata-rata kelas sebesar 60,80 dan nilai rata-rata kelas dari postes  II pada siklus I partemuan kedua yaitu 78,83 dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 70,55%. Apabila dibandingkan dengan hasil pretes I diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 57,10 dan peningkatan prosentase ketuntasan belajar sebesar 53,55 %. Peningkatan ini cukup besar dan bisa dikatakan memenuhi katagori berhasil, karena siswa yang mencapai nilai  di atas 60 ( diatas KKM yang telah ditetapkan) sudah lebih dari 80,66 %
           Dengan demikian, bahwa pengaruh proses pembeljaran melalui pendekatan komunikatif  dalam pembelajaran membaca dalam hati  cukup besar, sehingga dapat meningkatkan  meningkatkan aktivitas belajar  dan hasil belajar siswa. Untuk itu, perlu diertahankan dan dikembangkan  dalam proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya di siklus II.
Pelaksanaan Siklus II
1. Pemahaman  kemampuan membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif  dengan metode Resitasi
        Mengacu kepada RPP yang telah dipersiapkan, pertemuan pertama pada siklus II yang dilaksakan pada hari Sabut tanggal 16 Februari 2009, dilanjutkan kembali  proses pembelajaran mengenai materi membaca dalam hati ( sebagai pendalaman materi ). Prosentase aktivitas  secara keseluruhan  meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu  dari 70,55 % menjadi 81,44 % . Peningkatan nya sebesar 9,11 % .
Prosentase aktivitas secara keseluruhan meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu dari 70,55 % menjadi 81,44 % dan pada pertemuan akhir  menjadi 82,11% Peningkatannya sebesar 11,56 %.

2.       Hasil Belajar Kemampuan Membaca Dalam Hati
         Setelah pembelajaran dilakukan sebanyak 1 kali pertemuan, diperoleh hasil postes III dengan ketuntasan belajar sebesar 100 % dan nilai rata-rata sebesar 86,36  Kenaikan dari pretes ke postes sebesar 29,26 % dan kenaikan nilai rata-rata sebesar 81,00
Demikian juga postes I di siklus I dan postes II di siklus I serta postes III di siklus II terdapat peningkatan ketuntasan belajar sebesar 100  % dan peningkatan skor nilai rata-rata kelas naik dari 60,80 menjadi 78,83 dan menjadi 86,36

3. Refleksi
         Seteah proses pembelajaran yang dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II, maka  berdasarkan analisis data kegiatan siswa ( Kemampuan Membaca Dalam Hati ) diperoleh peningkatan  aktivitas siswa yang cukup berarti. Seperti pada tabel berikut ini :
Tabel. 1
Prosentase aktivitas kelas pada Kemampuan membaca dalam hati
Siklus
Siklus I
Siklus II
Pertemuan
1
2
1
Proses
Aktivitas
Kelas (%)
53,55
70,55
82,11

         Peningkatan prosentase aktivitas  kelas ini, ternyata bisa terwujud apabila proses pembelajarannya melalui pendekatan komunikatif
Adapun hasil belajar ( ketuntasan belajar dan skor nilai rata-rata ) yang diperoleh setelah proses pembelajaran di siklus I dan siklus II melalui postes I dan postes II dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel. 2 
Prosentase Ketuntasan Belajar Membaca Dalam Hati
Siklus
Prestes
Postes
Perbedaan
I
53,33%
60 %
2,70 %


86,66%
33,33 %
II

100%
46,67%



Tabel. 3
Skor Nilai Rata-rata Kelas Kemampuan Membaca Dalam Hati
Siklus
Skor Nilai
Rata-rata Pretes
Skor Nilai
Rata-rata Postes
Perbedaan
I
57,10
60,80
3.70


78,09
20,99
II

86,36
29,26

          Dari tabel di atas diperoleh adanya temuan bahwa hasil belajar dari pretes I dan hasil postes I pada siklus I perbedaannya sangat kecil hal ini terjadi karena siswa masih belum memahami cara membaca dalam hati yang baik dan benar ,sedangkan di siklus II hasil belajar melalui prostes III perbedaan nilai pretes dan postes cukup tinggi dikarenakan pembelajaran di siklus  II adalah kelanjutan dari pembelajaran sebagai pendalaman dalam pemahaman kemampuan dalam kemampuan membaca dalam hati di siklus I. Di Prediksi bahwa siswa telah memiliki konsep dasar (konsep awal) dari pembelajaran di siklus I.

Kesimpulan
        Berdasarkan analisis, temuan dan pembahasan penelitian tindakan  tentang pemahaman siswa terhadap hasil membaca dalam hati  melalui pendekatan model komunikatif dengan metode resitasi pada siswa kelas VI sekolah dasar, peneliti mencoba memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran membaca dalam hati  di kelas VI, aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup sinifikan. Hal ini di dasari dari hasil pengamatan selama berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar dari setiap pertemuan baik di siklus I maupun pada siklus II, peningkatannya yaitu 28,56% pada pertemuan pertama dan 53,55% pada pertemuan kedua di  siklus I, dan 70,55% pada pertemuan terakhir ( ke tiga )  82,11% di siklus II.
2. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatif banyak peningkatan baik dalam ketuntasan belajar maupun hasil belajar.  Hal ini didasari dari hasil pengolahan data, yaitu pada tingkat ketuntasan belajar 86,66% di siklus I dan 100 % di siklus II. Sedangkan nilai rata-rata kelas dalam pemahaman membaca dalam hati  yaitu 78,09 di siklus I dan 86,38 di siklus II.
DAFTAR PUSTAKA

·         Basuki Wibawa,dkk, 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Depniknas Dirjen Dimenum, Jakarta
·         Depdiknas, (2008) Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, UNJ, Jakarta
·         Dinn Wahyudin dkk,(1995), Pengantar Pendidikan, Universitas Terbuka, Jakarta
·         Hendi Guntur Tarigan (1986),. Membaca Suatu Keterampilan Berbahasa, Angkasa  Bandung
·         Kosadi Hidayat (1995), Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia, Bina Cipta,Bandung
·         Mochlisoh, (1991), Pendididikan Bahasa Indonesia, Depdikbud, Jakarta
·         Puji Santosa dkk, (1990), Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD, Universitas Terbuka, Jakarta
·         Sudirman, dkk, (1984), Ilmu Pendidikan, Rosda Karya, Bandung
·         Suharsimi Arikunto,  Duharjono,Supardi, (2006) Penelitian TindakanKelas, Bumi Aksara, Jakarta 
·         Udin S Winataputra dkk, (1991), Teori dan Pembalajaran, Universitas Terbuka, Jakarta























Tidak ada komentar:

Posting Komentar