Jumat, 27 Mei 2011

PTK BAHASA INDONESIA


UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA DALAM HATI DENGAN PENDKATAN KOMUNIKATIF PADA SISWA KELAS VI SD MELALUI METODE RESITASI

Oleh: ADE FIRMANSYAH
SD Negeri Gunungputri 2
Kecamatan Banjar

ABSTRAK
Pembelajaran Bahasa Indonesia sangat penting dan mendasar untuk dikuasai dan diminati dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Namun kenyataannya antusias siswa termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek membaca sangat rendah. Rendahnya prestasi tersebut terjadi pada siswa kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Desa Gunungputri Kecamatan Banjar Kabupaten Pandeglang terbukti dari hasil ulangan formatif atau sumatif menunjukkan rata-rata dibawah 60%. Sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia termasuk pada pembelajaran pokok.
Untuk mengatasi masalah tersebut, dapat diupayakan melalui peningkatan kemampuan membaca dalam hati dengan pendekatan komunikatif melalui metode Resitasi.  Dengan menggunakan pendekatan komunikatif melalui metode Resitasi tersebut adalah salah satu alternatif upaya meningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menciptakan situasi pembelajaran berpusat pada anak dan berorientasi pada proses mengembangkan kemampuan komunikasi pada aspek kebahasaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan komunikatif melalui  metode resitasi, dimana dilakukan melalui 2 siklus dapat disimpulkan sebagi berikut ; a). Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup sinifikan., peningkatannya yaitu 28,56% pada pertemuan pertama dan 53,55% pada pertemuan kedua di  siklus I, dan 70,55% pada pertemuan terakhir (ke tiga)  82,11% di siklus II.     b). Hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatif banyak peningkatan baik dalam ketuntasan belajar maupun hasil belajar.  Hal ini didasari pada tingkat ketuntasan belajar 86,66% di siklus I dan 100 % di siklus II. Sedangkan nilai rata-rata kelas dalam pemahaman membaca dalam hati  yaitu 78,09 di siklus I dan 86,38 di siklus II.



PENDAHULUAN
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi) saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain dengan meningkatkan kemampuan intelektual mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan keterampilan berbahasa.
Sesuai dengan kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional dan Bahasa Negara, maka fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah :
1. Sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa.
2. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
3. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa untuk meraih dan pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.
4. Sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah dan sarana pengembangan penalaran pembelajaran Bahasa Indonesia tersebut mencakup empat aspek, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut sebaiknya mendapat posisi yang seimbang.
        Pembelajaran Bahasa Indonesia sangat penting dan mendasar untuk dikuasai dan diminati dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Namun kenyataannya antusias siswa  termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar  pada aspek membaca sangat rendah.
        Rendahnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar  dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain  kurang antusiasnya siswa dalam belajar membaca dan kelemahan guru dalam menggunakan pendekatan/strategis belajar mengajar bahasa intosi yang kurang tepat baik metode maupun penggunaan metode  kurang, serta  guru sangat dominan pembelajaran terpusat pada guru sedangkan siswa pasif.
Untuk mengatasi masalah tersebut,  penulis  akan memberikan gambaran bagaimana upaya guru dalam kegiatan belajar mengajar  membaca dalam hati pada siswa sekolah dasar dengan pendekatan komunikatif.
Dengan menggunakan pendekatan komunikatif  diharapkan  dapat meningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menciptakan situasi pembelajaran berpusat pada anak dan berorientasi pada proses mengembangkan kemampuan komunikasi pada aspek kebahasaan.
Berdasarkan pada masalah-masalah yang penulis kemukakan di atas, maka penulis menetapkan judul makalah adalah “Pendekatan Komunikatif  Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Di  Sekolah Dasar”
.
METODOLOGI
Faktor yang diteliti  dalam penelitian ini adalah pemahaman dan hasil belajar melalui aktifitas kelas dan hasil belajar pada pembelajaran membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia  di kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan Banjar
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pretes, dan postes pada tiap siklus dan dilengkapi jurnal harian ( catatan harian).
Seluruh kegiatan dalam proses pembelajaran tidak semuanya tercantum dalam lembar observasi. Oleh karena itu dilengkapi lagi dengan jurnal harian/catatan harian yang merupakan alat bantu perekam yang paling sederhana. Perilaku khusus siswa di guru maupun permasalahan yang dapat dijadikan pertimbangan bagi pelaksanaan langkah-langkah berikutnya bisa dicatat dalam jurnal harian tersebut. Dalam jurnal inipun dimasukan  catatan mengenai kegiatan guru  yang berlangsung di kelas.
Data tes hasil belajar Bahasa Indonesia  pada pembelajaran membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi berupa data kuantitatif yang diperoleh melalui pretes sebelum diadakan tindakan pada masing-masing siklus dan postes setelah berakhirnya tindakan  setiap siklus baik di suklus I  maupun siklus II. Hal ini dimaksudkan agar setiap berakhirnya  di setiap siklus dapat diketahui kemajuan perkembangan yang didapat oleh siswa membaca dalam melalui pendekatan komunikatif . Data hasil tes tersebut bisa dijadikan acuan, pertimbangan, bahan refleksi, untuk merencanakan pelaksanaan pada siklus berikutnya.  Perlu diketahui bahwa soal yang diberikan  sebagai alat untuk mengetahui hasil belajar ini, sudah mengalami validasi dengan guru kelas VI lainya di SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan/Kabupaten Banjar.
         Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan yaitu  menilai hasil tidakan dengan menggunakan lembar observasi, dan tes kemampuan pemahaman terhadap isi wacana dengan  membaca dalam hati pretes dan postes serta membadingkan perolehan skor antara pretes dan postes tersebut untuk mengetahui  seberapa besar peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa. Adapun lembar observasi memuat hal-hal yang dilakukan siswa tentang aktivitas dan keaktifannya. Aktivitas yang diamati diantaranya adalah; bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan guru atau teman sekelas, menyanggah dan mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan
Pelaksanaan observasi ini dibantu pula dengan alat bantu sederhana yaitu jurnal harian. Jurnal harian ini meupakan catatan harian sehingga dapat berfungsi sebagai rekaman pengamatan yang sangat efektif. Dalam jurnal harian memuat catatan-catatan yang terjadi selam proses pembelajaran yang berlangsung dalam satu kali pertemuan.
 Setelah selesai tindakan dilakukan pada siklus I, selanjutnya diadakan kegiatan refleksi yang bertujuan sebagai evakuasi dari tindakan tersebut yaitu mengkaji apa yang telah dan atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil  dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Selain itu,  pada kegiatan refleksi ini diadakan pertemuan bersama kolabulator  dan partisipan untuk membahas hasil evaluasi tentang RPP, LKS dan lain-lain.

HASIL PENELITIAN
      Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan hasil implementasi dari kegiatan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatifdalam  upaya meningkatkan pemahaman dan hasil belajarmembaca dalam hati pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan Banjar di semester genap tahun ajaran 2008/2009.
       Pelaksanaan penelitian ini terbagi menjadi 2 siklus. Siklus I  terdiri dari 2 kali pertemuan, dan siklus II terdiri dari 1 kali pertemuan. Di awal setiap siklus I pada pertemuan pertama diadakan pretes I dan postes I pada akhir pertemuan pertam, dan pada siklus I pertemuan kedua di akhir siklus I dilakukan postes II setelah proses pembelajaran berlangsung atau setelah di beri tindakan. Jenis soal, jumlah soal dan lamanya penegjaan dari pretes dan postes adalah sama. Dengan demikian dari hasil pretes dan postes tersebut baik di siklus I maupun siklus II dapat terlihat seberapa besar peningkatan pemahaman dan hasil belajar siswa membaca dalam hati melului pendekatan komunikatif dengan metode resitasi

Pelaksanaan Siklus I
       Pada pertemuan pertama di siklus I, yaitu hari Rabu Tanggal 11. Februari 2009 dilakukan proses pembelajaran yang mengacu kepada RPP yang telah disiapkan, diawali penjelasan guru pentingnya belajar membaca dalam hati , yang dibantu dengan menampilkan wacana dalam buku pelajaran bahasa Indonesia,  siswa mnmenyimak penjelasan guru ,sehingga siswa  mempunyai gambaran pengenai pembahasan materi pembelajaran yaitu membaca dalam hati  yang akan diajarkan guru.
         Selanjutnya guru membagi kelompok, kemudian memberikan materi pembelajaran tentang membaca dalam hati. Melalui diskusi kelompok siswa membahas masalah yang terjadi dari hasil pembahasan guru.

1. Aktivitas Belajar
        Untuk mengetahui pemahaman yang dicapai siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung diamati beberapa aktivitas siswa, diantaranaya aktivitas dalam memperhatikan lisan maupn tulisan pada saat mengejakan soal di papan tulis, Pada pertemuan pertama ini belum nampak adanya aktivitas siswa yang mencolok, namun siswa lebih cenderung penjelasan guru, bertanya kepada guru , menjawab pertanyaan baik untuk memperhatikan penjelasan guru, melihat gambar-gambar yang ditampilkan guru.
         Berdasarkan dari data lembar observasi, diperoleh 15 orang siswa ( 50 % ) memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru, 6 orang siswa ( 20 % )  yang aktivitas dalam pembahasan tugas 12 orang siswa ( 40% ) Mendengarkan penjelasan ketua kelompok 18  orang siswa ( 60 % )  tanya jawab dalam kelompok 12 0rang siswa ( 40 % ) Peran aktif dalam kelompok 6 orang siswa ( 20 % ) , adanya anggota kelompok berperan aktif dalam pembahasan 6 orang siswa ( 20 % ) adanya respon siswa menyambut pertanyaan guru 15 orang siswa ( 50 %) . Prosentase aktivitas siswa seca keseluruhan pada siklus I pertemuan pertama mencapai 53,55%
         Pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari Kamis  Tnggal 14 Februari 2009, Guru melakukan kegiatan preses belajar mengajar yang mengacu pada RPP yang telah  dipersiapkan. Guru membahas materi pembelajaran yaitu tentang membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatuf.
          Berdasarkan dari data lembar observasi, diperoleh 28 orang siswa ( 93 % ) memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru, 24 orang siswa ( 80 % )  yang aktivitas dalam pembahasan tugas 24 orang siswa ( 80% ) Mendengarkan penjelasan ketua kelompok 23 orang siswa ( 76 % )  tanya jawab dalam kelompok 23 0rang siswa ( 76 % ) Peran aktif dalam kelompok 23 orang siswa ( 76 % ) , adanya anggota kelompok berperan aktif dalam pembahasan 18 orang siswa ( 60 % ) adanya respon siswa menyambut pertanyaan guru 15 orang siswa ( 50 %) .  Prosesentase aktivitas belajar siswa secara keseluruhan pada kegiatan siklus I pertemuan kedua mencapai 70,55%

2. Hasil Belajar membaca dalam hati
          Pada awal kegiatana penelitian, sebelum pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus I, yaitu pada hari Rabu tanggal 11 Februari 2009, siswa diberikan tes awal berupa pretes I  yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diadakan proses pembelajaran tentang pemahaman membaca dalam hati  . Hasil pretes I ternyata diperoleh skor nilai rata-rata 57,1 dan prosentase ketuntasan belajar sebesar 53,33%, yaitu 16 orang  siswa yang sudah tuntas dari 30 siswa.
        Walaupun demikian skor nilai ini masih dianggap wajar, karena memang belum diajarkan ( belum dilakukan proses pembeljaran di kelas, tetapi siswa hanya belajar sendiri dari buku sumber tanpa adana penjelasan  dari guru
Berdasarkan hasil pretes I yang diperoleh, yaitu ketuntasan belajar hanya 53,33 %, maka dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam melakukan suatu upaya untuk meningkatkan  kemampuan membaca dalah hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi.
         Setelah proses pembelajaran yang berlangsung di siklus I sebanyak 1 kali pertemuan, maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar  setelah diberi tindakan, siswa diberikan postes I yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Februari  2009. Berdasarkan hasil dari postes I diperoleh skor nilai rata-rata 60,80 dan prosentse ketuntasan belajar mencapai 60 % yaitu sebanyak 18 siswa yang sudah tuntas dan 12 orang siswa yang belum tuntas
          Setelah proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus I pertemuan kedua, maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar setelah dilakukan tindakan, siswa diberikan postes II
          Berdasarkan hasil dari postes II diperoleh skor nilai rata-rata 78,83 dan prosentse ketuntasan belajar mencapai 86,66 % yaitu sebanyak 26  siswa yang sudah tuntas dan 4  orang siswa yang belum tuntas.

3. Refleksi
       Secara kseluruhan aktivitas belajar di siklus I meningkat dari 53,55 % menjadi 70,55%, Dan aktivitas kelas termasuk katagori aktif, ( aktivitas kelas sudah berkisar 50% - 75 % ). Namun masih ada beberapa  jenis aktivitas yang masih dianggap rendah, yaitu aktivitas dalam hal menyambut pertanyaan guru. Oleh karena itu  masih perlu ada pendekatan guru terhadap  siswa untuk bisa merangsang atau menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa dengan cara belajar yan maksimal dan menjelaskan hal ini masih sedang tarap belajar.
        Adapaun hasil belajar yang diperoleh melalui postes I, setelah berakirnya pembelajaran pada pertemuan pertama  di siklus I, diperoleh skor nilai rata-rata kelas sebesar 60,80 dan nilai rata-rata kelas dari postes  II pada siklus I partemuan kedua yaitu 78,83 dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 70,55%. Apabila dibandingkan dengan hasil pretes I diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 57,10 dan peningkatan prosentase ketuntasan belajar sebesar 53,55 %. Peningkatan ini cukup besar dan bisa dikatakan memenuhi katagori berhasil, karena siswa yang mencapai nilai  di atas 60 ( diatas KKM yang telah ditetapkan) sudah lebih dari 80,66 %
           Dengan demikian, bahwa pengaruh proses pembeljaran melalui pendekatan komunikatif  dalam pembelajaran membaca dalam hati  cukup besar, sehingga dapat meningkatkan  meningkatkan aktivitas belajar  dan hasil belajar siswa. Untuk itu, perlu diertahankan dan dikembangkan  dalam proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya di siklus II.
Pelaksanaan Siklus II
1. Pemahaman  kemampuan membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif  dengan metode Resitasi
        Mengacu kepada RPP yang telah dipersiapkan, pertemuan pertama pada siklus II yang dilaksakan pada hari Sabut tanggal 16 Februari 2009, dilanjutkan kembali  proses pembelajaran mengenai materi membaca dalam hati ( sebagai pendalaman materi ). Prosentase aktivitas  secara keseluruhan  meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu  dari 70,55 % menjadi 81,44 % . Peningkatan nya sebesar 9,11 % .
Prosentase aktivitas secara keseluruhan meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu dari 70,55 % menjadi 81,44 % dan pada pertemuan akhir  menjadi 82,11% Peningkatannya sebesar 11,56 %.

2.       Hasil Belajar Kemampuan Membaca Dalam Hati
         Setelah pembelajaran dilakukan sebanyak 1 kali pertemuan, diperoleh hasil postes III dengan ketuntasan belajar sebesar 100 % dan nilai rata-rata sebesar 86,36  Kenaikan dari pretes ke postes sebesar 29,26 % dan kenaikan nilai rata-rata sebesar 81,00
Demikian juga postes I di siklus I dan postes II di siklus I serta postes III di siklus II terdapat peningkatan ketuntasan belajar sebesar 100  % dan peningkatan skor nilai rata-rata kelas naik dari 60,80 menjadi 78,83 dan menjadi 86,36

3. Refleksi
         Seteah proses pembelajaran yang dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II, maka  berdasarkan analisis data kegiatan siswa ( Kemampuan Membaca Dalam Hati ) diperoleh peningkatan  aktivitas siswa yang cukup berarti. Seperti pada tabel berikut ini :
Tabel. 1
Prosentase aktivitas kelas pada Kemampuan membaca dalam hati
Siklus
Siklus I
Siklus II
Pertemuan
1
2
1
Proses
Aktivitas
Kelas (%)
53,55
70,55
82,11

         Peningkatan prosentase aktivitas  kelas ini, ternyata bisa terwujud apabila proses pembelajarannya melalui pendekatan komunikatif
Adapun hasil belajar ( ketuntasan belajar dan skor nilai rata-rata ) yang diperoleh setelah proses pembelajaran di siklus I dan siklus II melalui postes I dan postes II dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel. 2 
Prosentase Ketuntasan Belajar Membaca Dalam Hati
Siklus
Prestes
Postes
Perbedaan
I
53,33%
60 %
2,70 %


86,66%
33,33 %
II

100%
46,67%



Tabel. 3
Skor Nilai Rata-rata Kelas Kemampuan Membaca Dalam Hati
Siklus
Skor Nilai
Rata-rata Pretes
Skor Nilai
Rata-rata Postes
Perbedaan
I
57,10
60,80
3.70


78,09
20,99
II

86,36
29,26

          Dari tabel di atas diperoleh adanya temuan bahwa hasil belajar dari pretes I dan hasil postes I pada siklus I perbedaannya sangat kecil hal ini terjadi karena siswa masih belum memahami cara membaca dalam hati yang baik dan benar ,sedangkan di siklus II hasil belajar melalui prostes III perbedaan nilai pretes dan postes cukup tinggi dikarenakan pembelajaran di siklus  II adalah kelanjutan dari pembelajaran sebagai pendalaman dalam pemahaman kemampuan dalam kemampuan membaca dalam hati di siklus I. Di Prediksi bahwa siswa telah memiliki konsep dasar (konsep awal) dari pembelajaran di siklus I.

Kesimpulan
        Berdasarkan analisis, temuan dan pembahasan penelitian tindakan  tentang pemahaman siswa terhadap hasil membaca dalam hati  melalui pendekatan model komunikatif dengan metode resitasi pada siswa kelas VI sekolah dasar, peneliti mencoba memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran membaca dalam hati  di kelas VI, aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup sinifikan. Hal ini di dasari dari hasil pengamatan selama berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar dari setiap pertemuan baik di siklus I maupun pada siklus II, peningkatannya yaitu 28,56% pada pertemuan pertama dan 53,55% pada pertemuan kedua di  siklus I, dan 70,55% pada pertemuan terakhir ( ke tiga )  82,11% di siklus II.
2. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatif banyak peningkatan baik dalam ketuntasan belajar maupun hasil belajar.  Hal ini didasari dari hasil pengolahan data, yaitu pada tingkat ketuntasan belajar 86,66% di siklus I dan 100 % di siklus II. Sedangkan nilai rata-rata kelas dalam pemahaman membaca dalam hati  yaitu 78,09 di siklus I dan 86,38 di siklus II.
DAFTAR PUSTAKA

·         Basuki Wibawa,dkk, 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Depniknas Dirjen Dimenum, Jakarta
·         Depdiknas, (2008) Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, UNJ, Jakarta
·         Dinn Wahyudin dkk,(1995), Pengantar Pendidikan, Universitas Terbuka, Jakarta
·         Hendi Guntur Tarigan (1986),. Membaca Suatu Keterampilan Berbahasa, Angkasa  Bandung
·         Kosadi Hidayat (1995), Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia, Bina Cipta,Bandung
·         Mochlisoh, (1991), Pendididikan Bahasa Indonesia, Depdikbud, Jakarta
·         Puji Santosa dkk, (1990), Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD, Universitas Terbuka, Jakarta
·         Sudirman, dkk, (1984), Ilmu Pendidikan, Rosda Karya, Bandung
·         Suharsimi Arikunto,  Duharjono,Supardi, (2006) Penelitian TindakanKelas, Bumi Aksara, Jakarta 
·         Udin S Winataputra dkk, (1991), Teori dan Pembalajaran, Universitas Terbuka, Jakarta























Jumat, 29 April 2011

Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dan Pengaruhnnya Terhadap Pendidikan di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Dalam bahasa Indoesia, istilah pendidikan berasal dari kata “didik”, dengan awalan “pe” dan akhiran “an”, yang mengandung arti “perbuatan”(hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “pedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan “Educatian” yang bertarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini diterjemahkan dengan “Tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam perkembangannya, istiah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa, [1] yaitu selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya. Orang dewasa disini adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar tugas dan kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik. Misalnnya guru di sekolah, kiyai dalam lingkungan keagamaan, kepala – kepala asarama, dan sebagainnya.[2]
Ditinjau dari substansi atau isinya, ilmu pendidikan merupakan system pengetahuan tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset.[3] Dengan demkian, dalam pendidikan terdapat latihan fisik, mental dan moral bagi individu-individu supaya mereka menjadi manusia yang berbudaya sehingga memenuhi tugasnnya sebagai manusia dan menjadi warga Negara yang berarti bagi suatu bangsa.
Dalam lintasan sejarah perkembangan pemikiran manusia, permasalahan perbuatan manuisa telah menempati lintasan yang cukup panjang. Kajian terhadap persoalan perbuatan manusia didasari bahwa kajian tersebut diperlukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi prilaku manusia.
Dalam berbagai literatur, kajian perbuatan manusia dikenal di berbagai nama diantarannya al-qadar  wa al-qadar (ketentuan dan kepastian). Al-jabar wa al-ikhtiyar (berpasrah dan berusaha), huriyah al-iradat (hasrat dan keinginan), di-istitha’ah (kemampua) dan afal al’-ibad (ibadah dalam bentuk perbuatan). Persoalan perbuatan manuisa merupakan kajian dari berbagai macam disiplin ilmu antara lain : psikologi, ilmu aqhlak, agama dan filsafat yang memaparkan dan membantu dalam memahami perkembangan manusia baik secara individu maupun masyarakat. Hal ini karena pendidikan berpusat pada kebijakan dan pembentukan prilaku manusia.[1]
Berkembangnnya pemikiran terhadap perbuatan manusia berkisar pada permasalahan apakah manuisa melakukan perbuatan dengan kehendak dan daya yang bebas untuk memilih ataukah manuisa tidak memiliki kebebasan dan kehendak dalam memilih untuk melakukan perbuatan. Dalam hal ini, perbuatan manuisa yang dikaji adalah prilaku manusia yang dapat dipilihnnya dengan kebebasan dan kehendaknnya.
Dengan adanya pemahaman tentang prilaku manusia yang bebas, pendidikan berkepentingan untuk membentuk dan mengembangkan prilaku manusia agar mampu menetapkan dan mengubahnnya kepada prilaku-prilaku yang utama dan yang lebih baik. Dengan demikian prilaku manusia bukanlah sesuatu yang sudah ditetapkan sejak dahulu sehingga tidak dapat dirubah. Pendidikan berkesinambungan yang dimulai sejak dini memungkinkan untuk mengarahkan prilaku manusia secara bertahap, sehingga prilaku manusia menjadi baik dan mampu manjauhi dan meninggalkan keburukan.
Perubahan yang dapat dilakukan tidaklah terbatas pada perubahan prilaku individu, tapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan berperan mengarahkan prilaku manusia untuk membangun kebersamaan dalam keragaman. Pengarahan yang dilakukan tidaklah dengan kekuatan dan kekerasan akan tetapi melalui metode yang mengarahkan kemampuan manusia yang dimiliki kepada kesepakatan dalam masyarakat.
Pandangan kebebasan manuisa dalam berprilaku juga trkait dengan pemahaman bahwa manusia bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnnya. Jika melaksanakan kebaikan maka akan diperolehnnya kebaikan dan bila melakukan keburukan, maka akan ditimpakan keburukan baginnya. Dengan demikian manusia diberikan kesempatan untuk memilih dan menimbang-nimbang perbuatan yang akan dilakukannya. Pemahaman ini membawa kepada pandangan bahwa manusia mampu untuk mengetahui kebaikan dengan akalnnya.
Dengan pandangan tersebut akan munculah manusia yang bertangung jawab dalam perbuatannya dengan lebih dahulu menimbang perbuatan yang akan dilakukannya. Oleh karenannya, pendidikan berperan sebagai pembimbing untuk mendayungkan kemampuan akal manusia. Untuk melaksanakan hal ini, al-Qur’an telah menawarkan berbagai metode pendidikan, salah satunya adalah metode al-ibrah yang menitik beratkan pada pengunaan akal.[2]
Faham kebebasan manusia juga mengarahkan kepada sikap optimis namun terkadang cenderung mambawa kepada faham manusia tidak lagi berhajat kepada Tuhan. Oleh karena itu, kebebasan manusia dalam berkehendak dan berkuasa dalam perbuatan-perbuatannya hendaklah dipahami sebagai kebebasan yang bersifat tidak absolute. Berbagai disiplin ilmu telah membahas persoalan tersebut. Kajian inipun dapat dijumpai pada berbagai agama. Keseluruhan studi terhadap perbuatan manusia adalah upaya memahami manusia dan mengarahkan serta memperbaiki kea rah yang lebih baik. Dalam hal inilah keseluruhan studi tersebut membantu pendidikan untuk mengarahkan manusia kepada fitrahnnya.
Pemahaman bahwa manusia bebas untuk memilih dan melaksanakan perbuatan yang diinginkannya member ruang yang luas bagi pendidikan. Prilaku manusia yang dipahami sebagai sesuatu yang bukan ditetapkan sejak azali memungkinkan manusia untuk melakukan perubahan, baik bagi individu dan masyarakat. Pedidikan berperan mengarahkan kepada kebaikan dan membimbing untuk dapat menemukan serta membedakan antara kebaikan dan keburukan manusia.[3]
Pendidikan Islam tumbuh dan berkembang sejalan denga adannya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad Saw. Berkaitan dengan itu pula pendidikan Islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan secara terus menerus pasca generasi Nabi sehingga dalam perjalanan selanjutnnya pendidikan Islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum (mata pelajaran),[4] maupun dari segi lembaga pendidikan Islam yang dimaksud. Hal ini berarti bahwa sesunguhnnya adanya upaya perubahan, walaupun sedikit benar-benar telah Nampak dan terjadi secara alamiah (natur) dalam pendidikan Islam.
Sedikitnnya ada 5 fase yang dapat menjadi acuan dalam memahami dan menjelaskan periodisasi pendidikan Islam, diantarannya :
Pertama, masa pembinaan pendidikan Islam yang terjadi pada masa awal kenabian Muhammad.
Kedua, masa pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, yaitu kondisi pendidikan Islam yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw dan masa khulafaurasyidin.
Ketiga, masa kejayaan pendidikan Islam. Satu kondisi pendidikan Islam yang banyak mengunakan 2 pola pemikiran yang bersifat tradisional yang lebih banyak didasarkan pada pemahaman tekstual wahyu (pola sufistik), hingga pada pemikiran rasional yang didasarkan pada pemahaman kontekstual wahyu secara empiris. Kedua factor inilah yang menjadi factor lain timbulnnya masa kejayaan Islam. Masa ini terjadi pada masa pemerintahan Bani Umayah dan Abbasiyah.
Keempat, masa kemunduran pendidikan Islam, satu masa dimana kondisi umat Islam saat itu lebih banyak bertumpu pada cara berfikir rasional yang (sufistik) dan tidak lagi mau mengunakan pola berfikir rasional yang lebih diambil oleh Barat, yang terjadi kira-kira abad ke VIII dan abad ke XIII M.
Dan yang kelima, masa pembaharuan atau moderenisasi pendidikan Islam. Pada pase inilah tampil banyak pemikian tokoh-tokoh pendidikan (ksususnnya di Indonesia) dan salah satu diantarannya adalah K.H. Ahmad Dahlan, beliau merupakan pahlawan nasional yang banyak memberikan kontribusi kepada dunia pendidikan Islam di Indonesia ini. Beliau seorang da’I sekaligus organisatoris Islam yang mampu mewujudkan suatu system lembaga Islam yang terpadu, yang hasilnnya kini dikembangkan terus oleh para generasinnya.[5]
Nama K.H. Ahmad Dahlan bukanlah nama  yang asing dalam dunia pendidikan, beliau lebih banyak dikenal dengan orang sebagai pendakwah atau pembaharu social budaya di Indonesia. Namun satu hak yang baik dapat di pungkiri ia telah memberikan nilai-nilai berharga pada pendidikan Islam agar dapat selangkah lebih maju dengan orang-orang eropa. Contohnnya dengan lahirnnya lembaga pendidikan Muhamadiyah yang sampai saat ini tetap eksit dan qualifaid.[6]
Dari fenomena tersebut, muncul ketertarikan untuk lebih jauh mengetahui histori serta peranan pemikiran beliau dalam dunia pendidikan di Indonesia. Upaya-upaya untuk mengetahui hal tersebut akan di bahas lebih dalam melalui studi pustaka dengan judul “PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN PENGARUHNNYA TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA
A.  Perumusan Masalah
Perumusan awal yang terurai dalam latar belakang masalah diatas memberikan petunjuk yang belum jelas. Oleh Karena itu, untuk mengetahui sekaligus membatasi studi pustaka yang akan dibahas, peneliti merinci sebagai berikut :
a.       Bagaimana pemikiran K.H. Ahmad Dahlan?
b.      Bagaimana pendidikan di Indonesia?
c.       Bagaimana pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia?
B.   Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan tersebut diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
a.       Untuk mengetahui pemikiran K.H Ahmad Dahlan
b.      Untuk mengetahui pendidikan di Indoesia.
c.       Untuk mengetahui pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia
C.  Kerangka Pemikiran
Istilah pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan atau pertolongan yag diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa, [7] yang sealu diartikan mampu menimbulkan tangung jawab moril dari segala perbuatannya. Orang dewasa di sini adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar kedudukannya mempunnyai kewajiban untuk mendidik. Misalnnya guru di sekolah, kiyai dalam lingkungan keagamaan, kepala-kepala asrama dan sebagainnya.[8]
Dari uraian diatas dapatlah dikatakan bahwa pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan diperlukan manusia dalam perkembangannya menuju peradaban yang lebih maju dan membedakannaya dengan makhluk lain.
Didalam perkembangannya, kemajuan pendidikan di Indonesia tidaklah lepas dari sumbangan pemikiran-pemikiran para tokoh terdahulu yang harus kita contoh dan kita tumbuh kembangkan, oleh karena itu, kita harus dapat menemukan garis-garis besar yang menujukan kepada kita, bagaimana leluhur kita melaksanakan tugas mendidiknnya dari masa ke masa.
Sejarah pendidikan dan pengajaran harus member pengetahuan kepada kita tentang pertumbuhan dn keyakinan pendidikan pada zaman dahulu, seringkali bertentangan satu sama lain. Sebab kejadian-kejadian yang lalu itu bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja, melainkan tentu mempunyai akibat. Timbulnnya pendapat-pendapat tadi tentu ada sebabnnya, dan ini semua berhubungan erat dengan keyakinan orang-orang tentang agama, fisafat, kesusilaan serta politik yang mendahuluinnya. Juga keadaan masyarakat dan dunia mempunyai pengaruh yang besar sekali atas pendidikan dan pengajaran.
Hal ini dapat dibuktikan, misalnnya dimasa penjajahan Belanda. Sekolah-sekolah yang bercorakan keislaman timbul dikalangan masyarakat kita disebabkan pemerintah Belanda memperluas pendidikan dan pengajaran Kristen Taman Siswa, yang lahir karena Belanda ingin mematikan rasa kebanggaan kita terhadap pendidikan dan pengajaran Barat.
Dalam penyelenggaraannya, sekolah tersebut sama seperti sekolah-sekolah yang berkembang pada saat itu, namun ada suatu hal yang berbeda dalam hal materi yang diajarkan di sekolah tersebut. Pada umumnnya sekolah-sekolah pada waktu itu hanya mengajarkan ilmu umum saja tanpa mengajarkan ilmu agama sedangkan di sekolah ini kedua ilmu tersebut dipadukan.
Di sisi lain, pendidikan Islam di Indonesia tidak sepenuhnnya khas Indonesia, kecuali hanya menambahkan muatan dan corak keislaman terhadap tradisi pendidikan yang sudah ada, terutama bagi yang  bermula dari agama Hindu. IP. Simanjuntak berpendapat bahwa, “masuknnya agama Islam tidak mengubah hakikat pengajaran agama yang formil, yang berubah sejak pengembangan agama Islam ialah isi agama yang dipelajari, bahasa yang menjadi wahana bagi pelajaran agama itu, serta latar belakang pelajaran-pelajaran”.[9] mengetahui asumsi ini orang-orang tentunnya akan mudah cenderung kepada anggapan bahwa pertumbuhan madrasah di Indonesia sepenuhnnya merupakan suatu usaha penyesuaian atas tradisi persekolahan yang dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Mengingat struktur dan mekanisme yang hamper sama, sekilas dapat diduga bahwa madrasah merupakan bentuk lain dari sekolah yang hanya diberi muatan dan corak keislaman.[10]
Lembaran sejarah pendidikan di Indonesia mencatat tokoh pemikiran pendidikan K.H Ahmad Dahlan ini yang pada tahun 1912 mendirikan perguruan Muhamadiyah, yang pada awalnnya mengadopsi system pendidikan Barat (Belanda),karena itulah K.H Ahmad Dahan dianggap sebagai tokoh controversial karena jalan pikirannya menentang arus, tak sejalan dengan system pendidikan Islam tradisional. Namun sebenarnnya disitulah letak gagasan “pembaharuan pendidikan” K.H Ahmad Dahlan dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Ia mengambil alih system pengajaran Barat dengan ilmu pengetahuan umum sekaligus mengajarkan ilmu-imu keislaman.[11]
Pernyataan di atas mengimplikasikan bahwa pendidikan, khususnnya pendidikan Islam tidak harus bersifat statis atau tidak menghendaki perubahan. Tentunnya pembaharuan kearah yang lebih baik.
D.  Langkah-langkah Peelitian
Dalam membahas pemikiran pendidikan K.H Ahmad Dahlan, penulis mendasarkan penelitian kepada “Book Researceh” atau studi literature atau studi kepustakaan, dimana mengambil langkah-langkah penelitian terhadap buku-buku atau bahan-bahan bacaan yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Pendekatan ini digunakan karena masalahnnya hanya berkaitan pada permasalahan teoritik semata, sehingga tuntutan penggalian datannya berorientasi pada penelaahan buku, jurnal, majalah, surat kabar, dan sebagainnya tanpa harus mengungkap data empiris dari lapangan.
Pendekatan yang digunakan penulis adalah pendekatan kualitatif dengan tekhnik penelaahan teks, (library research) yang suatu prosedur penelitian untuk menghasilkan data-data deskriptif tanpa fakta-fakta tertulis atau lisan dari orang-orang dalam prilaku yang dialami.
Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.    Menentukan jenis data
Karena pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis pemikiran seorang tokoh, maka jenis data yang diperoleh dalam pendekatan ini adalah data tertulis, adapun jenis data tersebut meliputi implikasi pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia.
b.    Menentukan sumber data
Yang dimaksud dengan  sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.[12] Adapun sumber data yang penulis tentukan guna melengkapi penelitian mengenai implikasi pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia dapat dikata gorikan ke dalam dua sumber yaitu :
1.    Sumber data primer
Dalam penelitian ini, penulis menentukan sumber data primer yaitu pemikiran-pemikiran pendidikan serta sejarah kehidupan K.H Ahmad Dahlan yang telah dibukukan oleh beberapa tokoh diantarannya : Kutoyo Sutrisno, dalam bukunya “Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Perserikatan Muhamadiyah”, Dalier Noer dalam bukunnya “Gerakan Moderen Islam d Indonesia 1900-1994  serta Suwito dan Fauzan dalam bukunnya “Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan”.
2.     Sumber data Sekunder
Guna melengkapi data primer yang penulis dapatkan, penulis menggunakan data dokumentasi yakni dengan buku, jurnal, dan majalah serta literature-literatur yang berkaitan dengan hal yang sedang penulis teiti.
c.    Menginventarisasi Data
Data yang diinventarisasi penulis adalah data teoritik tertulis yang terdiri dari sumber buku, majalah ilmiah, sember arsip dan dokumen pribadi, dimana hanya berkisar kepada pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.
d.    Menganalisis Data
Data yang sudah terkumpul oleh penulis menggunakan tehik deduksi, induksi dan konvergensi. Menurut Muhammad Ali,[13] deduksi merupakan cara menarik kesimpulan dari yang umum kepada yang khusus. Dalam hal ini penulis menuraikan terlebih dahulu tentang biografi, pemikiran, serta pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia
e.    Membuat kesimpulan
Kesimpulan adalah rumusan akhir dari sebuah penelitian atas apa yang diteliti. Dengan selesainnya langkah ini, beberapa kesimpulan penting dapat ditemukanjawaban-jawaban atas pertannyaan pada penelitian ini. Yang pada akhirnnya akan terkumpul hasil akhir dari penelitian ini.
E.   Sistematika Penulisan
Bab I, Pendahuluan, meliputi : Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Pemikiran, Langkah-langkah Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Bab II, Biografi K.H Ahmad Dahlan, meiputi : Riwayat Hidup K.H Ahmad Dahlan, Latar Belakang Pendidikan K.H Ahmad Dahlan, Latar Belakang Sosial K.H Ahmad Dahlan.
Bab III, Pemikiran Pendidikan K.H Ahmad Dahlan, meliputi : Perkembangan Pendidikan di Indonesia Pada Masa Sebelum dan Sesudah K.H Ahmad Dahlan, Muhamadiyah dan Pendidikan, Tujuan Pendidikan, Materi Pendidikan, Sistem Pendidikan, Metode Mngajar, Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan, Perinsip Pendidikan.
Bab IV, pemikiran K.H Ahmad Dahlan pengaruhnnya terhadap Pendidikan di Indonesia, meliputi : Pembaharuan Pendidikan, Pembelajaran Amaliyah, Jasa-jasa K.H Ahmad Dahlan.
Bab V, Penutup, meliputi : Kesimpulan dan Saran-saran.




[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), h.13.
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995), h.11
[3] Redja Mudyaharjo, Filsafat Ilmu Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001) h.9
[1] Suwito dan Fauzan, Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan,(Bandung : Angkasa, 2003)Cet ke-1, h.10
[2] Ibid.h.11
[3] Ibid,h.12
[4] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992) h.110
[5] Op,Cit, h.1-2
[6] Ibid,h. 324
[7] Op,Cit.
[8] Op,Cit.
[9] Suwendi, Sejarah Pemikiran dan Pendidikan Islam, (Jakarta : Grafindo Persada, 2004), h.58
[10] Ibid.
[11] Loc Cit, h.331
[12] Suharsimin Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta : Rieka Cipta, 1996) h.114
[13] Muhammad Ali, Penelitian Pendidikan, (Bandung : Angkasa, 1982), h.18