Kamis, 31 Mei 2012

Jangan Menyerah Guru Koe


Sejarah, pemerintah atau kita sekalipun kadang tidak adil dalam memandang  keberadaan atau posisi para  guru dalam catatan sejarah. Kebesaran jasa guru seolah cukup dijuluki dengan pahlawan tanpa tanda jasa.  Padahal, peranannya bahkan lebih atau sama besar dengan para pejuang kemerdekaan.  Tapi dinegeri ini ia selalu dilupakan. 
            Manakala negara Matahari terbit “Jepang”  hancur dihujani dua  bom atom sekaligus, dan negerinya hampir lumat, sang kaisar hanya menanyakan satu hal setelah itu, berapa orangkah guru kita yang tersisa. Sebuah pertanyaan yang menguncangkan nurani kita, bahwa  peran  guru betapa mahal dan dihargai   di negeri itu. Bahkan lebih tinggi dari posisi  jenderal perang  hingga para serdadu . Semestinya ia bertanya, berapa ribu pasukankah yang tersisa ?  Tetapi tidak !
            Kita juga memandang profesi guru itu sebagai profesi  remeh dan rendahan, padahal, statusnya, lebih tinggi dari pada dosen yang bergelar doktor dan professor sekalipun.  Sebab gurulah orang pertama yang mendidik anak-anak itu hingga  bisa membaca, menulis dan mengenal angka-angka.  Sedangkan profesor hanya tinggal beres.   Guru memulai dari nol mengubah orang yang tidak mengenal apa-apa, untuk tahu dengan istilah, nama dan benda,  sementara para doktor menerima bersih saja. Dan jangan lupa, seorang dosen bisa bergelar professor juga karena peran  para guru-guru itu. Termasuk orang tua kita,pintar karena guru pula.
            Itu sebabnya, Pakar Manajemen pemasaran Universitas Universitas Indonesia, Rhenald Khasali, PHd, tahu betul bagaimana  menghargai  besarnya jasa gurunya waktu SD dahulu.     Ketua program Magister Ilmu Manajemen  Univ. Indonesia itu  mengundang sang guru yang pernah membuat dirinya tidak  naik kelas pada acara penganugerahan gelar Profesor kepada dirinya.    Dia  tinggal kelas, bukan karena dia bebal alias bodoh, tapi karena nakal dan suka berkelahi.  Itulah Mardiyanti, sang guru SD, sang  yang membuat Rhenald tahu makna hidup setelah itu. “kalau bukan karena tinggal kelas karena sang guru, dia tidak akan juara kelas untuk masa-masa mendatang’kenangnya.
            Seorang  guru, yang  terasing dari dunia luar,   berhasil menyulap 10 anak-anak kesayangannya  menjadi orang-orang yang melukiskan sejarah.  Dan    SD Muhammadiyah Belitong yang dianggap paling miskin yang pernah diancam ditutup oleh Diknas Sumsel,  selamat karena  anak-anak tadi. Yang menyelamatkan sekolah itu adalah seorang siswa idiot yang bernama Harun yang seharusnya masuk Sekolah Luar Biasa, di Kota Bangka. Tapi karena rasa cintanya  untuk belajar, sekolah itu  membalas jasa Harun dengan mengubahnya menjadi anak-anak yang luar biasa dan ini  membuat kita iri. 
Sekolah Muhammadiyah yang layak dikatakan sebagai gubuk  dikemudian hari  menjadi terkenal  karena anak-anak yang dahulunya  tidak masuk dalam catatan sejarah, membuat gempar nusantara. Lintang dengan teman-temannya dalam Novel  Laskar Pelangi, garapan Andrea Hirata  telah menginspirasi dunia pendidikan kita, bahwa dibalik kesuksesan mereka itu, tidak lepas dari  spirit/semangat dan kesabaran seorang  Ibu guru yang bernama  ibu guru Muslimah. Semangat itulah  yang ditularkan kepada Tim Laskar pelangi. Karenanya mereka percaya bahwa masa depan itu (tentu)  milik mereka.
            Jauh sebelum Laskar Pelangi hadir, seorang perempuan, yang sejarahnya dicoba dilupakan banyak orang, merajut mimpi-mimpi besarnya lewat sekolah khusus puteri.  Apa yang didirikan, tidak disokong orang kebanyakan, tapi Al Azhar university  di Mesir sana, terpesona dengan karyanya. Kendati  Ia, dilupakan oleh perempuan muslimah  Minangkabau dan wanita negeri ini termasuk pegiat gender sekalipun, tapi, para  Muslimah di Malaysia, pantas kiranya berterima kasih kepadanya. Betapa tidak, pembinaan yang dilakukannya menjadi kenangan indah, bagi Aisyah Gani, alumni Diniyyah Puteri yang menjadi menteri Am kebajikan selama empat periode dimasa Perdana Menteri Dato Mahatir Muhammad. Kemudian  Datin sakinah Juned, Siti Zubaidah dan lainnya.  Dan bukan bualan sejarah kalau generasi muslimah Malaysia (senator dan menteri) cerdas, karena berkat  tangan seorang perempuan yang bernama Rahmah el Yunusiyyah.
            Rahmah berjuang menegakkan harkat perempuan berangkat dari sekolah yang didirikannya. Ia tidaklah kaya, tidak punya modal.  Sarana prasana Diniyyah Puteri diawal berdiri mungkin samalah dengan apa yang didapati Ibu Muslimah, yang banyak serba kekurangan. Modalnya yang pertama adalah cinta,  kemauan, semangat dan niat yang ikhlas untuk mencerdaskan generasi muslimah yang kala itu tidak diberi kesempatan untuk memimba ilmu oleh zamannya.  Tapi, kekurangan itu tidak ada artinya bagi diri mereka.  Sebaliknya menjadi pelecut motivasi diri untuk tidak mudah menyerah karena keadaan. 
Karenanya secara materi boleh miskin, tetapi secara immateri, kekayaan motivasinya  tidak  terhitung. Semangat inilah, dari seorang guru yang ikhlas, apa yang dimimpi-mimpikannya, Allah realisasikan dikemudian hari dalam bentuk yang lain. Kenyataannya murid-murid , ibu Muslimah dan sudah tentu Rahmah El Yunusiyyah telah berhasil mempersembahkan karya mereka untuk para guru (dan bangsanya) dengan prestasi dan kesuksesan yang telah dicapai. Semua itu tidak lebih, berkat seorang guru yang dianggap sebagai pelengkap cerita dari sebuah sejarah bangsa ini.
             Seorang guru tidak boleh menyerah karena keadaan. Kekurangan gaji dan sarana prasarana. Sebab yang dibangun adalah kemauan pantang menyerah untuk diajarkan kepada anak didiknya.  Ia sedang melakukan pekerja yang tidak kecilm melainkan pekerjaan besar sebab Ia akan merubah sebuah generasi yang  melahirkan banyak karya dikemudian hari. Bila penyakit mudah mengeluh dan berputus asa  masih diidap para guru sekarang, maka untuk selanjutnya  kita juga akan membentuk generasi pengeluh yang mudah menyerah disuatu hari nanti. Untuk menghindari itu, sudah saatnya   sekolah dan para guru bangkit dengan menjadikan sekolah-seklah mereka sebagai  benteng untuk merancang perubahan anak didiknya menjadi orang-orang yang memiliki mimpi besar dikemudian hari. 
Kita yakin, perubahan sebuah bangsa berangkat dari sebuah sekolah, dan perubahan sebuah sekolah berasal dari perubahan para gurunya. Jika seorang  Renald Khasali berhasil mendirikan sebuah kampung yang bernama kampung perubahan, dimana ia mengajari orang-orang didalamnya belajar berbisnis atau  hidup secara  mandiri  dan itu berhasil dilakukannya, maka institusi sekolah (masa lalu)  telah jauh hari sudah membuktikan bahwa sekolah   sukses melahirkan generasi orang-orang sukses.
Saatnya, sekolah zaman  sekarang  harus membangun inspirasi   perubahan, yang dimulai dari guru-guru itu  untuk  melakukan perubahan  fundamental pada dirin mereka sebelum merubah anak didiknya. Guru harus merubah cara berpikirnya sebelum merubah cara berpikir anak didiknya.  Karenanya, jangan menyerah wahai para guruku. Baik buruknya sebuah generasi, berada ditanganmu, sebab engkaulah yang memberi  warna pertama dalam hidup siswanya sebelum mereka-mereka menjadi mahasiswa.