Sejarah, pemerintah atau kita sekalipun kadang tidak adil dalam
memandang keberadaan atau posisi para guru dalam catatan sejarah.
Kebesaran jasa guru seolah cukup dijuluki dengan pahlawan tanpa tanda
jasa. Padahal, peranannya bahkan lebih atau sama besar dengan para
pejuang kemerdekaan. Tapi dinegeri ini ia selalu dilupakan.
Manakala negara Matahari terbit “Jepang” hancur dihujani dua bom
atom sekaligus, dan negerinya hampir lumat, sang kaisar hanya menanyakan satu
hal setelah itu, berapa orangkah guru kita yang tersisa. Sebuah pertanyaan yang
menguncangkan nurani kita, bahwa peran guru betapa mahal dan
dihargai di negeri itu. Bahkan lebih tinggi dari posisi
jenderal perang hingga para serdadu . Semestinya ia bertanya, berapa ribu
pasukankah yang tersisa ? Tetapi tidak !
Kita juga memandang profesi guru itu sebagai profesi remeh dan rendahan,
padahal, statusnya, lebih tinggi dari pada dosen yang bergelar doktor dan
professor sekalipun. Sebab gurulah orang pertama yang mendidik anak-anak
itu hingga bisa membaca, menulis dan mengenal angka-angka.
Sedangkan profesor hanya tinggal beres. Guru memulai dari nol
mengubah orang yang tidak mengenal apa-apa, untuk tahu dengan istilah, nama dan
benda, sementara para doktor menerima bersih saja. Dan jangan lupa,
seorang dosen bisa bergelar professor juga karena peran para guru-guru
itu. Termasuk orang tua kita,pintar karena guru pula.
Itu sebabnya, Pakar Manajemen pemasaran Universitas Universitas Indonesia,
Rhenald Khasali, PHd, tahu betul bagaimana menghargai besarnya jasa
gurunya waktu SD dahulu. Ketua program Magister Ilmu
Manajemen Univ. Indonesia itu mengundang sang guru yang pernah
membuat dirinya tidak naik kelas pada acara penganugerahan gelar Profesor
kepada dirinya. Dia tinggal kelas, bukan karena dia
bebal alias bodoh, tapi karena nakal dan suka berkelahi. Itulah
Mardiyanti, sang guru SD, sang yang membuat Rhenald tahu makna hidup
setelah itu. “kalau bukan karena tinggal kelas karena sang guru, dia tidak akan
juara kelas untuk masa-masa mendatang’kenangnya.
Seorang guru, yang terasing dari dunia luar, berhasil
menyulap 10 anak-anak kesayangannya menjadi orang-orang yang melukiskan
sejarah. Dan SD Muhammadiyah Belitong yang dianggap paling
miskin yang pernah diancam ditutup oleh Diknas Sumsel, selamat
karena anak-anak tadi. Yang menyelamatkan sekolah itu adalah seorang
siswa idiot yang bernama Harun yang seharusnya masuk Sekolah Luar Biasa, di
Kota Bangka. Tapi karena rasa cintanya
untuk belajar, sekolah itu membalas jasa Harun dengan mengubahnya menjadi
anak-anak yang luar biasa dan ini membuat kita iri.
Sekolah Muhammadiyah yang layak dikatakan sebagai gubuk dikemudian
hari menjadi terkenal karena anak-anak yang dahulunya tidak
masuk dalam catatan sejarah, membuat gempar nusantara. Lintang dengan
teman-temannya dalam Novel Laskar Pelangi, garapan Andrea Hirata
telah menginspirasi dunia pendidikan kita, bahwa dibalik kesuksesan
mereka itu, tidak lepas dari spirit/semangat dan kesabaran seorang
Ibu guru yang bernama ibu guru Muslimah. Semangat itulah yang
ditularkan kepada Tim Laskar pelangi. Karenanya mereka percaya bahwa masa depan
itu (tentu) milik mereka.
Jauh sebelum Laskar Pelangi hadir, seorang perempuan, yang sejarahnya dicoba
dilupakan banyak orang, merajut mimpi-mimpi besarnya lewat sekolah khusus
puteri. Apa yang didirikan, tidak disokong orang kebanyakan, tapi Al
Azhar university di Mesir sana,
terpesona dengan karyanya. Kendati
Ia, dilupakan oleh perempuan
muslimah Minangkabau dan wanita negeri ini termasuk pegiat gender
sekalipun, tapi, para Muslimah di Malaysia, pantas kiranya berterima
kasih kepadanya. Betapa tidak, pembinaan yang dilakukannya menjadi kenangan
indah, bagi Aisyah Gani, alumni Diniyyah Puteri yang menjadi menteri Am
kebajikan selama empat periode dimasa Perdana Menteri Dato Mahatir Muhammad.
Kemudian Datin sakinah Juned, Siti Zubaidah dan lainnya. Dan bukan
bualan sejarah kalau generasi muslimah Malaysia (senator dan menteri)
cerdas, karena berkat tangan seorang perempuan yang bernama Rahmah el
Yunusiyyah.
Rahmah berjuang menegakkan harkat perempuan berangkat dari sekolah yang
didirikannya. Ia tidaklah kaya, tidak punya modal. Sarana prasana
Diniyyah Puteri diawal berdiri mungkin samalah dengan apa yang didapati Ibu
Muslimah, yang banyak serba kekurangan. Modalnya yang pertama adalah
cinta, kemauan, semangat dan niat yang ikhlas untuk mencerdaskan generasi
muslimah yang kala itu tidak diberi kesempatan untuk memimba ilmu oleh
zamannya. Tapi, kekurangan itu tidak ada artinya bagi diri mereka.
Sebaliknya menjadi pelecut motivasi diri untuk tidak mudah menyerah karena
keadaan.
Karenanya secara materi boleh miskin, tetapi secara immateri, kekayaan
motivasinya tidak terhitung. Semangat inilah, dari seorang guru
yang ikhlas, apa yang dimimpi-mimpikannya, Allah realisasikan dikemudian hari
dalam bentuk yang lain. Kenyataannya murid-murid , ibu Muslimah dan sudah tentu
Rahmah El Yunusiyyah telah berhasil mempersembahkan karya mereka untuk para
guru (dan bangsanya) dengan prestasi dan kesuksesan yang telah dicapai. Semua
itu tidak lebih, berkat seorang guru yang dianggap sebagai pelengkap cerita
dari sebuah sejarah bangsa ini.
Seorang guru tidak boleh menyerah karena keadaan. Kekurangan gaji dan
sarana prasarana. Sebab yang dibangun adalah kemauan pantang menyerah untuk
diajarkan kepada anak didiknya. Ia sedang melakukan pekerja yang tidak
kecilm melainkan pekerjaan besar sebab Ia akan merubah sebuah generasi
yang melahirkan banyak karya dikemudian hari. Bila penyakit mudah
mengeluh dan berputus asa masih diidap para guru sekarang, maka untuk
selanjutnya kita juga akan membentuk generasi pengeluh yang mudah
menyerah disuatu hari nanti. Untuk menghindari itu, sudah saatnya
sekolah dan para guru bangkit dengan menjadikan sekolah-seklah mereka
sebagai benteng untuk merancang perubahan anak didiknya menjadi
orang-orang yang memiliki mimpi besar dikemudian hari.
Kita yakin, perubahan sebuah bangsa berangkat dari sebuah sekolah, dan
perubahan sebuah sekolah berasal dari perubahan para gurunya. Jika seorang
Renald Khasali berhasil mendirikan sebuah kampung yang bernama kampung
perubahan, dimana ia mengajari orang-orang didalamnya belajar berbisnis atau
hidup secara mandiri dan itu berhasil dilakukannya, maka
institusi sekolah (masa lalu) telah jauh hari sudah membuktikan bahwa
sekolah sukses melahirkan generasi orang-orang sukses.
Saatnya, sekolah zaman sekarang harus
membangun inspirasi perubahan, yang dimulai dari guru-guru
itu untuk melakukan perubahan fundamental pada dirin mereka
sebelum merubah anak didiknya. Guru harus merubah cara berpikirnya sebelum
merubah cara berpikir anak didiknya. Karenanya, jangan menyerah wahai
para guruku. Baik buruknya sebuah generasi, berada ditanganmu, sebab engkaulah
yang memberi warna pertama dalam hidup siswanya sebelum mereka-mereka
menjadi mahasiswa.