BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam bahasa Indoesia, istilah pendidikan berasal dari kata “didik”, dengan awalan “pe” dan akhiran “an”, yang mengandung arti “perbuatan”(hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “pedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan “Educatian” yang bertarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini diterjemahkan dengan “Tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam perkembangannya, istiah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa, [1] yaitu selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya. Orang dewasa disini adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar tugas dan kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik. Misalnnya guru di sekolah, kiyai dalam lingkungan keagamaan, kepala – kepala asarama, dan sebagainnya.[2]
Ditinjau dari substansi atau isinya, ilmu pendidikan merupakan system pengetahuan tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset.[3] Dengan demkian, dalam pendidikan terdapat latihan fisik, mental dan moral bagi individu-individu supaya mereka menjadi manusia yang berbudaya sehingga memenuhi tugasnnya sebagai manusia dan menjadi warga Negara yang berarti bagi suatu bangsa.
Dalam lintasan sejarah perkembangan pemikiran manusia, permasalahan perbuatan manuisa telah menempati lintasan yang cukup panjang. Kajian terhadap persoalan perbuatan manusia didasari bahwa kajian tersebut diperlukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi prilaku manusia.
Dalam berbagai literatur, kajian perbuatan manusia dikenal di berbagai nama diantarannya al-qadar wa al-qadar (ketentuan dan kepastian). Al-jabar wa al-ikhtiyar (berpasrah dan berusaha), huriyah al-iradat (hasrat dan keinginan), di-istitha’ah (kemampua) dan afal al’-ibad (ibadah dalam bentuk perbuatan). Persoalan perbuatan manuisa merupakan kajian dari berbagai macam disiplin ilmu antara lain : psikologi, ilmu aqhlak, agama dan filsafat yang memaparkan dan membantu dalam memahami perkembangan manusia baik secara individu maupun masyarakat. Hal ini karena pendidikan berpusat pada kebijakan dan pembentukan prilaku manusia.[1]
Berkembangnnya pemikiran terhadap perbuatan manusia berkisar pada permasalahan apakah manuisa melakukan perbuatan dengan kehendak dan daya yang bebas untuk memilih ataukah manuisa tidak memiliki kebebasan dan kehendak dalam memilih untuk melakukan perbuatan. Dalam hal ini, perbuatan manuisa yang dikaji adalah prilaku manusia yang dapat dipilihnnya dengan kebebasan dan kehendaknnya.
Dengan adanya pemahaman tentang prilaku manusia yang bebas, pendidikan berkepentingan untuk membentuk dan mengembangkan prilaku manusia agar mampu menetapkan dan mengubahnnya kepada prilaku-prilaku yang utama dan yang lebih baik. Dengan demikian prilaku manusia bukanlah sesuatu yang sudah ditetapkan sejak dahulu sehingga tidak dapat dirubah. Pendidikan berkesinambungan yang dimulai sejak dini memungkinkan untuk mengarahkan prilaku manusia secara bertahap, sehingga prilaku manusia menjadi baik dan mampu manjauhi dan meninggalkan keburukan.
Perubahan yang dapat dilakukan tidaklah terbatas pada perubahan prilaku individu, tapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan berperan mengarahkan prilaku manusia untuk membangun kebersamaan dalam keragaman. Pengarahan yang dilakukan tidaklah dengan kekuatan dan kekerasan akan tetapi melalui metode yang mengarahkan kemampuan manusia yang dimiliki kepada kesepakatan dalam masyarakat.
Pandangan kebebasan manuisa dalam berprilaku juga trkait dengan pemahaman bahwa manusia bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnnya. Jika melaksanakan kebaikan maka akan diperolehnnya kebaikan dan bila melakukan keburukan, maka akan ditimpakan keburukan baginnya. Dengan demikian manusia diberikan kesempatan untuk memilih dan menimbang-nimbang perbuatan yang akan dilakukannya. Pemahaman ini membawa kepada pandangan bahwa manusia mampu untuk mengetahui kebaikan dengan akalnnya.
Dengan pandangan tersebut akan munculah manusia yang bertangung jawab dalam perbuatannya dengan lebih dahulu menimbang perbuatan yang akan dilakukannya. Oleh karenannya, pendidikan berperan sebagai pembimbing untuk mendayungkan kemampuan akal manusia. Untuk melaksanakan hal ini, al-Qur’an telah menawarkan berbagai metode pendidikan, salah satunya adalah metode al-ibrah yang menitik beratkan pada pengunaan akal.[2]
Faham kebebasan manusia juga mengarahkan kepada sikap optimis namun terkadang cenderung mambawa kepada faham manusia tidak lagi berhajat kepada Tuhan. Oleh karena itu, kebebasan manusia dalam berkehendak dan berkuasa dalam perbuatan-perbuatannya hendaklah dipahami sebagai kebebasan yang bersifat tidak absolute. Berbagai disiplin ilmu telah membahas persoalan tersebut. Kajian inipun dapat dijumpai pada berbagai agama. Keseluruhan studi terhadap perbuatan manusia adalah upaya memahami manusia dan mengarahkan serta memperbaiki kea rah yang lebih baik. Dalam hal inilah keseluruhan studi tersebut membantu pendidikan untuk mengarahkan manusia kepada fitrahnnya.
Pemahaman bahwa manusia bebas untuk memilih dan melaksanakan perbuatan yang diinginkannya member ruang yang luas bagi pendidikan. Prilaku manusia yang dipahami sebagai sesuatu yang bukan ditetapkan sejak azali memungkinkan manusia untuk melakukan perubahan, baik bagi individu dan masyarakat. Pedidikan berperan mengarahkan kepada kebaikan dan membimbing untuk dapat menemukan serta membedakan antara kebaikan dan keburukan manusia.[3]
Pendidikan Islam tumbuh dan berkembang sejalan denga adannya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad Saw. Berkaitan dengan itu pula pendidikan Islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan secara terus menerus pasca generasi Nabi sehingga dalam perjalanan selanjutnnya pendidikan Islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum (mata pelajaran),[4] maupun dari segi lembaga pendidikan Islam yang dimaksud. Hal ini berarti bahwa sesunguhnnya adanya upaya perubahan, walaupun sedikit benar-benar telah Nampak dan terjadi secara alamiah (natur) dalam pendidikan Islam.
Sedikitnnya ada 5 fase yang dapat menjadi acuan dalam memahami dan menjelaskan periodisasi pendidikan Islam, diantarannya :
Pertama, masa pembinaan pendidikan Islam yang terjadi pada masa awal kenabian Muhammad.
Kedua, masa pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, yaitu kondisi pendidikan Islam yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw dan masa khulafaurasyidin.
Ketiga, masa kejayaan pendidikan Islam. Satu kondisi pendidikan Islam yang banyak mengunakan 2 pola pemikiran yang bersifat tradisional yang lebih banyak didasarkan pada pemahaman tekstual wahyu (pola sufistik), hingga pada pemikiran rasional yang didasarkan pada pemahaman kontekstual wahyu secara empiris. Kedua factor inilah yang menjadi factor lain timbulnnya masa kejayaan Islam. Masa ini terjadi pada masa pemerintahan Bani Umayah dan Abbasiyah.
Keempat, masa kemunduran pendidikan Islam, satu masa dimana kondisi umat Islam saat itu lebih banyak bertumpu pada cara berfikir rasional yang (sufistik) dan tidak lagi mau mengunakan pola berfikir rasional yang lebih diambil oleh Barat, yang terjadi kira-kira abad ke VIII dan abad ke XIII M.
Dan yang kelima, masa pembaharuan atau moderenisasi pendidikan Islam. Pada pase inilah tampil banyak pemikian tokoh-tokoh pendidikan (ksususnnya di Indonesia) dan salah satu diantarannya adalah K.H. Ahmad Dahlan, beliau merupakan pahlawan nasional yang banyak memberikan kontribusi kepada dunia pendidikan Islam di Indonesia ini. Beliau seorang da’I sekaligus organisatoris Islam yang mampu mewujudkan suatu system lembaga Islam yang terpadu, yang hasilnnya kini dikembangkan terus oleh para generasinnya.[5]
Nama K.H. Ahmad Dahlan bukanlah nama yang asing dalam dunia pendidikan, beliau lebih banyak dikenal dengan orang sebagai pendakwah atau pembaharu social budaya di Indonesia. Namun satu hak yang baik dapat di pungkiri ia telah memberikan nilai-nilai berharga pada pendidikan Islam agar dapat selangkah lebih maju dengan orang-orang eropa. Contohnnya dengan lahirnnya lembaga pendidikan Muhamadiyah yang sampai saat ini tetap eksit dan qualifaid.[6]
Dari fenomena tersebut, muncul ketertarikan untuk lebih jauh mengetahui histori serta peranan pemikiran beliau dalam dunia pendidikan di Indonesia. Upaya-upaya untuk mengetahui hal tersebut akan di bahas lebih dalam melalui studi pustaka dengan judul “PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN PENGARUHNNYA TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA”
A. Perumusan Masalah
Perumusan awal yang terurai dalam latar belakang masalah diatas memberikan petunjuk yang belum jelas. Oleh Karena itu, untuk mengetahui sekaligus membatasi studi pustaka yang akan dibahas, peneliti merinci sebagai berikut :
a. Bagaimana pemikiran K.H. Ahmad Dahlan?
b. Bagaimana pendidikan di Indonesia?
c. Bagaimana pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia?
B. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan tersebut diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui pemikiran K.H Ahmad Dahlan
b. Untuk mengetahui pendidikan di Indoesia.
c. Untuk mengetahui pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia
C. Kerangka Pemikiran
Istilah pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan atau pertolongan yag diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa, [7] yang sealu diartikan mampu menimbulkan tangung jawab moril dari segala perbuatannya. Orang dewasa di sini adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar kedudukannya mempunnyai kewajiban untuk mendidik. Misalnnya guru di sekolah, kiyai dalam lingkungan keagamaan, kepala-kepala asrama dan sebagainnya.[8]
Dari uraian diatas dapatlah dikatakan bahwa pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan diperlukan manusia dalam perkembangannya menuju peradaban yang lebih maju dan membedakannaya dengan makhluk lain.
Didalam perkembangannya, kemajuan pendidikan di Indonesia tidaklah lepas dari sumbangan pemikiran-pemikiran para tokoh terdahulu yang harus kita contoh dan kita tumbuh kembangkan, oleh karena itu, kita harus dapat menemukan garis-garis besar yang menujukan kepada kita, bagaimana leluhur kita melaksanakan tugas mendidiknnya dari masa ke masa.
Sejarah pendidikan dan pengajaran harus member pengetahuan kepada kita tentang pertumbuhan dn keyakinan pendidikan pada zaman dahulu, seringkali bertentangan satu sama lain. Sebab kejadian-kejadian yang lalu itu bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja, melainkan tentu mempunyai akibat. Timbulnnya pendapat-pendapat tadi tentu ada sebabnnya, dan ini semua berhubungan erat dengan keyakinan orang-orang tentang agama, fisafat, kesusilaan serta politik yang mendahuluinnya. Juga keadaan masyarakat dan dunia mempunyai pengaruh yang besar sekali atas pendidikan dan pengajaran.
Hal ini dapat dibuktikan, misalnnya dimasa penjajahan Belanda. Sekolah-sekolah yang bercorakan keislaman timbul dikalangan masyarakat kita disebabkan pemerintah Belanda memperluas pendidikan dan pengajaran Kristen Taman Siswa, yang lahir karena Belanda ingin mematikan rasa kebanggaan kita terhadap pendidikan dan pengajaran Barat.
Dalam penyelenggaraannya, sekolah tersebut sama seperti sekolah-sekolah yang berkembang pada saat itu, namun ada suatu hal yang berbeda dalam hal materi yang diajarkan di sekolah tersebut. Pada umumnnya sekolah-sekolah pada waktu itu hanya mengajarkan ilmu umum saja tanpa mengajarkan ilmu agama sedangkan di sekolah ini kedua ilmu tersebut dipadukan.
Di sisi lain, pendidikan Islam di Indonesia tidak sepenuhnnya khas Indonesia, kecuali hanya menambahkan muatan dan corak keislaman terhadap tradisi pendidikan yang sudah ada, terutama bagi yang bermula dari agama Hindu. IP. Simanjuntak berpendapat bahwa, “masuknnya agama Islam tidak mengubah hakikat pengajaran agama yang formil, yang berubah sejak pengembangan agama Islam ialah isi agama yang dipelajari, bahasa yang menjadi wahana bagi pelajaran agama itu, serta latar belakang pelajaran-pelajaran”.[9] mengetahui asumsi ini orang-orang tentunnya akan mudah cenderung kepada anggapan bahwa pertumbuhan madrasah di Indonesia sepenuhnnya merupakan suatu usaha penyesuaian atas tradisi persekolahan yang dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Mengingat struktur dan mekanisme yang hamper sama, sekilas dapat diduga bahwa madrasah merupakan bentuk lain dari sekolah yang hanya diberi muatan dan corak keislaman.[10]
Lembaran sejarah pendidikan di Indonesia mencatat tokoh pemikiran pendidikan K.H Ahmad Dahlan ini yang pada tahun 1912 mendirikan perguruan Muhamadiyah, yang pada awalnnya mengadopsi system pendidikan Barat (Belanda),karena itulah K.H Ahmad Dahan dianggap sebagai tokoh controversial karena jalan pikirannya menentang arus, tak sejalan dengan system pendidikan Islam tradisional. Namun sebenarnnya disitulah letak gagasan “pembaharuan pendidikan” K.H Ahmad Dahlan dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Ia mengambil alih system pengajaran Barat dengan ilmu pengetahuan umum sekaligus mengajarkan ilmu-imu keislaman.[11]
Pernyataan di atas mengimplikasikan bahwa pendidikan, khususnnya pendidikan Islam tidak harus bersifat statis atau tidak menghendaki perubahan. Tentunnya pembaharuan kearah yang lebih baik.
D. Langkah-langkah Peelitian
Dalam membahas pemikiran pendidikan K.H Ahmad Dahlan, penulis mendasarkan penelitian kepada “Book Researceh” atau studi literature atau studi kepustakaan, dimana mengambil langkah-langkah penelitian terhadap buku-buku atau bahan-bahan bacaan yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Pendekatan ini digunakan karena masalahnnya hanya berkaitan pada permasalahan teoritik semata, sehingga tuntutan penggalian datannya berorientasi pada penelaahan buku, jurnal, majalah, surat kabar, dan sebagainnya tanpa harus mengungkap data empiris dari lapangan.
Pendekatan yang digunakan penulis adalah pendekatan kualitatif dengan tekhnik penelaahan teks, (library research) yang suatu prosedur penelitian untuk menghasilkan data-data deskriptif tanpa fakta-fakta tertulis atau lisan dari orang-orang dalam prilaku yang dialami.
Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Menentukan jenis data
Karena pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis pemikiran seorang tokoh, maka jenis data yang diperoleh dalam pendekatan ini adalah data tertulis, adapun jenis data tersebut meliputi implikasi pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia.
b. Menentukan sumber data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.[12] Adapun sumber data yang penulis tentukan guna melengkapi penelitian mengenai implikasi pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di Indonesia dapat dikata gorikan ke dalam dua sumber yaitu :
1. Sumber data primer
Dalam penelitian ini, penulis menentukan sumber data primer yaitu pemikiran-pemikiran pendidikan serta sejarah kehidupan K.H Ahmad Dahlan yang telah dibukukan oleh beberapa tokoh diantarannya : Kutoyo Sutrisno, dalam bukunya “Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Perserikatan Muhamadiyah”, Dalier Noer dalam bukunnya “Gerakan Moderen Islam d Indonesia 1900-1994 serta Suwito dan Fauzan dalam bukunnya “Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan”.
2. Sumber data Sekunder
Guna melengkapi data primer yang penulis dapatkan, penulis menggunakan data dokumentasi yakni dengan buku, jurnal, dan majalah serta literature-literatur yang berkaitan dengan hal yang sedang penulis teiti.
c. Menginventarisasi Data
Data yang diinventarisasi penulis adalah data teoritik tertulis yang terdiri dari sumber buku, majalah ilmiah, sember arsip dan dokumen pribadi, dimana hanya berkisar kepada pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.
d. Menganalisis Data
Data yang sudah terkumpul oleh penulis menggunakan tehik deduksi, induksi dan konvergensi. Menurut Muhammad Ali,[13] deduksi merupakan cara menarik kesimpulan dari yang umum kepada yang khusus. Dalam hal ini penulis menuraikan terlebih dahulu tentang biografi, pemikiran, serta pengaruh pemikiran K.H Ahmad Dahlan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia
e. Membuat kesimpulan
Kesimpulan adalah rumusan akhir dari sebuah penelitian atas apa yang diteliti. Dengan selesainnya langkah ini, beberapa kesimpulan penting dapat ditemukanjawaban-jawaban atas pertannyaan pada penelitian ini. Yang pada akhirnnya akan terkumpul hasil akhir dari penelitian ini.
E. Sistematika Penulisan
Bab I, Pendahuluan, meliputi : Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Pemikiran, Langkah-langkah Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Bab II, Biografi K.H Ahmad Dahlan, meiputi : Riwayat Hidup K.H Ahmad Dahlan, Latar Belakang Pendidikan K.H Ahmad Dahlan, Latar Belakang Sosial K.H Ahmad Dahlan.
Bab III, Pemikiran Pendidikan K.H Ahmad Dahlan, meliputi : Perkembangan Pendidikan di Indonesia Pada Masa Sebelum dan Sesudah K.H Ahmad Dahlan, Muhamadiyah dan Pendidikan, Tujuan Pendidikan, Materi Pendidikan, Sistem Pendidikan, Metode Mngajar, Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan, Perinsip Pendidikan.
Bab IV, pemikiran K.H Ahmad Dahlan pengaruhnnya terhadap Pendidikan di Indonesia, meliputi : Pembaharuan Pendidikan, Pembelajaran Amaliyah, Jasa-jasa K.H Ahmad Dahlan.
Bab V, Penutup, meliputi : Kesimpulan dan Saran-saran.
[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), h.13.
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995), h.11
[3] Redja Mudyaharjo, Filsafat Ilmu Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001) h.9
[1] Suwito dan Fauzan, Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan,(Bandung : Angkasa, 2003)Cet ke-1, h.10
[2] Ibid.h.11
[3] Ibid,h.12
[4] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992) h.110
[5] Op,Cit, h.1-2
[6] Ibid,h. 324
[7] Op,Cit.
[8] Op,Cit.
[9] Suwendi, Sejarah Pemikiran dan Pendidikan Islam, (Jakarta : Grafindo Persada, 2004), h.58
[10] Ibid.
[11] Loc Cit, h.331
[12] Suharsimin Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta : Rieka Cipta, 1996) h.114
[13] Muhammad Ali, Penelitian Pendidikan, (Bandung : Angkasa, 1982), h.18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar