Kamis, 21 April 2011

BIOGRAFI K.H AHMAD DAHLAN


A.  Riwayat Hidup K.H Ahmad Dahlan
K.H Ahmad Dahlan dilahirkan di kampung Kauman, Yogyakarta tanggal dan bulan kelahirannya tidak ada catatan yang pasti. Tetapi mengenai tahunnya adalah 1285 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1968 Masehi.[1] Sumber lain ada yang menyebutkan pada tahun 1969.[2] Ketika masih kanak-kanak, beliau bernama Mohammad Darwis. Beliau dilahirkan dari satu keluarga yang taat beragama Islam. Ayahnnya bernama K.H Abu Bakar bin K.H Sulaiman, pejabat masjid di kesultanan Yogyakarta.[3]
Menurut buku Eyang Abdurrahman, Plasakuning, Yogyakarta, silsilah keturunan K.H Ahmad Dahlan dari garis ayahnnya dapat ditelusuri sampai Maulana Malik Ibrahim yang juga dikenal dengan nama Syekh Maghribi yang dalam sejarah merupakan mubaligh pertama yang meyiarkan agama Islam di pulau jawa (Jawa Timur) dengan carannya yang bijaksana, penuh keramah tamahan, sopan santun dan budi bahasa yang halus.[4] Sedangkan dari pihak ibunnya berasal dai Kiai Mohammad Ali – K.H Hasan – H. Ibrahim,[5] yang merupakan pejabat penghulu kesultanan. Melihat garis ketturunannya ini maka dapat dikatakan bahwa beliau anak orang yang beradadan berkedudukan baik di masyarakat.[6] Beliau merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara, yang terdiri dari lima perempuan dan dua laki-laki, diantarannya :
beradadan berkedudukan baik di masyarakat.[1] Beliau merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara, yang terdiri dari lima perempuan dan dua laki-laki, diantarannya :
1.      Nyai Chatib Arum
2.      Nyai Muhsinah (nyai Nur)
3.      Nyai Haji Sholeh
4.      Mohammad Darwis (KH Ahmad Dahlan)
5.      Nyai Abdurrahaman
6.      Nyai H.Mohammad Fekih (ibunda H. Ahmad Badawi)
7.      Mohammad Basyir.[2]
Karena sudah tiga kali KH. Abu Bakar selalu memperoleh anak perempuan maka betapa gembira hatinnya dengan kehadiran Mohammad Darwis sebagai anak laki-laki yang pertama dalam keluarga. Tentu ayahnnya amat sayang kepada Mohammad Darwis, demikian pula ibu dan kakak-kakaknya semua menyayanginnya. Meskipun demikian, Mohammad Darwis tidak menjadi anak manja. Ia penurut dan patuh terhadap perintah dan kehendak orang tuannya dan tidak sering berselisih dengan kakak-kakaknnya.
Mohammad Darwis juga menaruh hormat kepada anggota keluargannya yang lain seperti paman, nenek, kakek dan lain-lain. Selama masa kanak-kanak kehidupan Mohammad Darwis penuh kegembiraan. Ia sering bermain-main dengan kawan-kawannya. Mereka senang bergaul dengan Mohammad Daewis karena ia seorang anak yang jujur dan suka menolong. Ia jarang dan tidak begitu suka berkelahi. Teman-temannya tidak pernah mengganggu Mohammad Darwis, dan begitupun sebaliknnya. Bahkan, apabila teman-temannya saling berselisih, Mohammad Darwis sering sekali berusaha untuk melerai dan mendamaikan. Tetapi kalau ia di hina, tentu akan melawan. Mohammad Darwis juga anak yang berani dank eras dalam memertahankan kebenaran.
Memeng kawan-kawannya mencintai Mohammad Darwis. Lagi pula, Darwis mempunyai kelebihan lain. Ia pandai membuat barang mainan. Darwis juga berbakat teknik. Hasil karyannya itu tidak digunakan untuk dirinnya sendiri, tetapi dimanfaatkan oleh teman-temannya secara bersama-sama. Karena itu kawan-kawannya bertambah senang kepadannya. Sejak masa kanak-kanak, jiwa social telah bersemi pada diri Mohammad Darwis. Bekal kejiwaan itulah, yaitu jiwa kemasyarakatan, social dan ketekunan disertai oleh jiwa keberanian dan keagamaan yang dibawa dan dikembangkannya dalam hidupnnya sesudah dewasa merupakan amal perjuangan. Kebiasaan masa kanak-kanak tetap membekas di dalam jiwa Mohammad Darwis.[3]
K.H Ahmad Dahlan pernah kawin dengan Nyai Abdullah, janda dari H. Abdullah, pernah juga kawin dengan Nyai Rumu (bibi prof . A. Kohar Muzakir), adik ajengan penghulu Cianjur, dan konon beliau juga pernah kawin dengan Nyai Solikah, putrid kanjeng peghulu M. Syar’I, adiknnya Pakualam Yogya. Dan terakhir kawin dengan Siti Walidah (diakui sebagai pahlawan nasional) binti KH. MohammadFadhil (penghulu) bin Ibrahim, yang tak lain adalah sepupu KH Ahmad Dahlan sendiri. Yang mendampinginnya hingga meninggal dunia bertepatan dengan tanggal 23 Februari 1923 Masehi, bertepatan dengan 7 Rajab 1340 Hijriyah di Kauman Yogyakarta dalam usia 55 Tahun,[4] beliau terkenal dengan Nyai Ahmad Dahlan.
B. Latar Belakang Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
Semasa kecilnya, Ahmad Dahlan tidak berstudi di sekolah formal, hal ini karena sikap orang-orang Islam pada waktu itu melarang anak-anaknnya memasuki sekolah Gubermen.[5] Oleh karena itu sebagaimana gantinnya Ahmad Dahlan diasuh dan di didik mengaji oleh ayahnnya sendiri.[6] Ia senang melihat orang belajar mengaji al-Qur’an dan ilmu agama. Ia tertarik pada masalah agama. Setiap petang, Mohammad Darwis mengaji dengan tekun. Mohammad Darwis mulai belajar mengaji sekitar tahun 1875, ketika menginjak usia 7 tahun. Pendidikan Mohammad Darwis adalah pendidikan pesantren. Pada waktu itu tidak ada anak-anak Kauman yang belajar di sekolah Gubernemen yang dianggap menyimpang bahkan kafir.[7]
Kemudian beliau meneruskan pelajaran mengaji tafsir dan hadis serta bahasa Arab dan fikih kepada beberapa ulama di Yogyakarta dan sekitarnnya. Setelah itu barulah beliau dimasukan ke sekolah dasar yang mempelajari materi-materi sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnnya. Setelah dia dewasa dan telah menyelesaikan pendidikannya di pesantren Yogyakarta dan sekitarnnya, dengan bantuan kakaknnya yang bernama KH. Shaleh.[8] Pada usia 15 tahun, yaitu pada tahun 1883, Mohammad Darwis berangkat ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5,[9] sekaligus melanjutkan studinnyauntuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam, seperti seni membaca al-Qur’an, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, ilmu hokum dan ilmu falaq (perbintangan).[10] Sekembalinnya dari kota Mekah, kira-kira ia berusia 20 tahun dan namannya diubah menjadi H. Ahmad dahlan
Pada akhir abad ke- 19, jarak antara Mekah dengan Yogyakarta masih terasa jauh. Alat komunikasi satu-satunya ialah yang belum modern pula. Pada waktu itu belum ada pesawat terbang. Orang Indonesia yang berangkat haji belum sebanyak seperti sekarang hitungannya, apalagi yang menetap di Mekah untuk belajar jumlahnnya tidak banyak. Tekad meninggalkan tanah air dan pergi ke luar negri untuk menuntut ilmu seperti yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan pada masa remaja remaja menunjukan bahwa beliau termasuk pemuda yang berani, tabah menderita dan bercita-cita tinggi. Hanya orang yang demikian yang dapat mengatasi kesulitan dan menjadi pemimpin, karena sejak muda beliau telah menunjukan sikap dan pemikiran sebagai seorang pemimpin.[11]
Selama berstudi di Mekah, tampaknnya tafsi Al-Manar yang tidak lain dikarang oleh Muhammad Abduh, mendapat perhatian serius dan yang paling digemarinnya. Tafsir ini memberikannya cahaya terang dalam hatinnya serta membuka akalnnya untuk berfikir jauh ke depan tentang eksistensi Islam di Indonesia, yang pada waktu itu masih sangat tertekan dari penjajah Belanda, ketika belajar di Mekah itulah ia juga dapat berkesempatan untuk dapat bertukar fikiran langsung dengan Rasyid Ridha, yang terkenal sebagai pembaharu Islam pada masanya. Pengalaman-pengalaman inilah yang mendorong ia tertarik untuk mengadakan perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan kaum muslimin di Indonesia.[12]
Ketika beliau berada di mekah, beliau membuat terobosan baru dengan membuat tanda shaff dalam masjid agung dengan memakia kapur, tanda yang beliau berikan bertujuan untuk memberikan gambaran gambaran arah kiblat yang benar dalam masjid. Namun hal itu mendapat perlawanan dari petugas masjid setempat dan dengan cepat membersihkan lantai masjid dan tanda shaff yang dituliskan oleh beliau.
K.H Ahmad Dahlan sunguh-sunguh dalam mempelajari Ilmu, beliau banyak mempunyai kitab agama. Hamper semua kitab yang dipakai dalam berbagai pesantren sebagai kitab wajib atau perpustakaan yang dimiliki beliau secara pribadi. Beliau selalu mengikuti arus perkembangan ilmu, kitab-kitab terbitan baru dan karangan alim uama belakangpun selalu diikuti dengan seksama, beliau timbang-timbang dan kaji dengan teliti. Boleh dikatakan bahwa beliau merupakan seorang intelektual atau cendikiawan agama pada waktu itu.[13]
Dalam riwayat hidupnnya akan terbukti bahwa Kiai membaca buku sekedar menambah ilmu tetapi dari bacaan-bacaan itu dipetik hikmahnya untuk jalan atau dasar amal nyata bagi kehidupan umat dan umat islam pada khususnya. Bagi K.H Ahmad Dahlan, belajar atau membaca buku bukan untuk sekedar intelektualisme, tetapi di praktekan, diterapkan dalam kehidupan yang sebenarnnya. Kaena itu, dapat dimengerti mengapa KH Ahmad Dahlan itu tidak meninggalkan buku-buku yang berisi renungan, analisis, maupun ilmu yang tinggi-tinggi tentang kegagamaan.
Tujuan mengangsu ilmu dari buku-buku memang tidak untuk menimbulkan kitab baru meskipun hal seperti itu adalah juga diperlukan, tetapi untuk mengambil pokok-pokok pikiran guna bertindak, berbuat dan beramal. Itulah kepribadian KH Ahmad Dahlan yang langsung menjawab permasalahan realitas kehidupan.
Sepulangnnya dari Mekah, yang pertama dilakukan beliau adalah mengganti namannya menjadi Ahmad Dahlan, yang diambil dari seorang mufti yang terkenal dari mazhab Syafe’I di Mekah, yaitu Ahmad bin Zaini Dahlan.[14]
Setelah itu ia memberikan pengajaran kepada berbagai macam sekolah (pesantren). Beliau mengajar ke beberapa kota sambil menawarkan penjualan batiknnya kepda setiap orang. Hal ini dilakukan guna membantu kesulitan orang tuannya.
Adapun sebagai ulama Islam, beliau merupakan seorang yang memiliki otak berlian dan jiwa toleran yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pribadinnya yang memberikan perhatian utamannya pada kehidupan  religious, ketidak efisienan pendidikan agama, aktifitas misionais Kristen dan sikap anti agama dari kaum cerdik pandai. Dari sinilah beliau disebut sebagai pemimpin yang memiliki komitmen yang tinggi kepada sikap moderat dan toleransi agama.[15]
Setelah ayahnya wafat, beliau menggantikan kedudukannya, dan diangkatlah beliau oleh Sri Sultan menjadi khatib masjid besar Kauman Yogyakarta dan dianugrahi gelar Khatib Amin dikarenakan pengetahuan dan pengalaman beliau yang dianggap lebih luas. Sambil berdagang batik, beiau menyebarkan agama dan terus mengajar. Beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun  1903, beliau kembali ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji lagi. Sepulangnnya dari naik haji inilah ia mendapat sebutan Kiai dari masyarakatnnya, dan sejak itulah dimana-mana beliau dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan.[16]
Dalam hal ini menarik juga untuk dikemukakan bahwa 90 tahun kemudian (tahun 1989), di Indonesia masih dilontarkan suara terhadap para ulama sebagai berikut : “Ulama akan semakin ditinggalkan untuknnya jika tidak bias menerjemahkan keagamaan secara kontekstual untuk menjawab permasalahan realitas kehidupan.” Cara menjawab permasalahan mutakhir dengan sekedar memproduksi rujukan “kitab kuning” tidak mencukupi lagi. Lagi pula, diantara para ulama kurang bersikap keritis, padahal ulama dahulu saling mengadakan keritik, misalnnya Al-Ghazali dengan Ibnu Rusdi. Hendaknnya seorang ulama itu menjadi ulama intelektual sekaligus “Intelektual agama”.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, KH Ahamd Dahlan pada awal abad ke-20 sudah menyadari sinyalemen seperti itu. KH Ahmad Dahlan sudah merintis cara baru dalam membina umat, yaitu bersama-sama mengamalkan ayat demi ayat al-Qur’an yang sudah dibaca, dihafal dan difahami kedalam tindakan nyata.[17]
Pengalaman pendidikannnya, sejak dari pesantren hingga studi di Mekah, memungkinkan beliau untuk melakukan pembaharuan dalam pergerakan Islam di Indonesia, karena melihat banyaknnya pengalaman keislaman masyarakat menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan al-hadis. Begitu pula pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan telah merangsang beliau untuk melakukan pembaharuan, termasuk dalam bidang pendidikan. Meskipun ia aktif dalam bidang pendidikan dan da’wah keagamaan, tetapi kegiatan sehari-hari KH Ahmad Dahlan adalah berdagang yang mengharuskannya bepergian ke berbagai kota dan desa.[18]
C. Latar Belakang Sosial KH Ahmad Dahlan
Secara tradisional, seseorang dipengaruhi factor geografis yang menunjukan bahwa latar belakang social berpengaruh terhadap proses pendewasaaannya. Kampung Kauman sebagai tempat kelahiran Darwis kecil terkenal sebagai daerah lingkungan santri. Menurut pandangan Pijper, Kauman yang terletak di dekat masjid yang besar memnungkinkan sebagai penjelmaan dari keinginan untuk dekat kepada sesuatu “yang suci”.
KH Ahmad Dahlan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Kauman, dan oleh karena itu sangat dipengaruhi oleh tradisi social daerah tersebut. Pengaruh itu nampak dari kebiasaan-kebiasaannya yang ulet dalam memperdalam pengetahuan keagaman.
Darwis sejak kecilnnya tidak dididik pada lembaga pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda, karena barang siapa yang memasukan anaknnya ke sekolah tersebut akan dianggap sebagai orang kafir karena telah memasuki pola kehidupan kafir Belanda. Namun berarti Darwis tidak menuntut pengetahuan sebagai alternative, oleh ayahnnya ia di didik sendiri melalui cara pengajian. Ketika beliau telah dianggap memiliki pengetahuan keislaman yang cukup beliau kemudian dikenal untuk belajar pada beberapa guru mengaji yang lain. Pada saat itu (abad 19) memang berkembang tradisi mengirimkan anak kepada guru untuk menuntut ilmu. Pada saat itu menurut Steer Brink ada lima kata gori guru: guru ngaji Qur’an, guru kitab, guru tarekat, guru ilmu gaib dan guru yang tidak menetapp di suatu tempat.
Sebagai seorang ulama, beliau berusaha untuk mendalami terus ilmu yang ditekuni dengan tidak mengabaikan keluargannya. Melalui usahannya yang semakin maju beliau memperoleh perluasan cakrawala berfikir karena pada saat itu sambil mempromosikan barang dagangannya beliau mendatangi para ulama setempat untuk bertukar fikiran. Dialog-dialog keagamaan telah mendorong beliau untuk mengembangkan berbagai pemikiran tentang re-orientasi pengamalan ajaran agama secara benar, sesuai dengan semangat dan ajaran aslinnya. Meskipun pemikiran ini memperoleh tanggapan yang berbeda-beda.[19]
Dari uraian diatas, ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dalam beajar mendidik dan bermasyarakat. Sikap dan sifat beliau yang istiqamah, bersemangat dan toleran dalam hidup merupakan modal dasar dalam perjuangan beliau untuk merubah realitas kehidupan di masyarakat yang dianggap konservatif terhadap perubahan positif. Al-hasil dari semua yang beliau perjuangkan menarik banyak perhatian masyarakat sehingga beliau dijuluki dengan gelar al-amin.




[1] Hasbullah, Op.Cit, 133
[2] Kutoyo, Op.Cit, h.41-42
[3] Ibid, h,42-43
[4] Hasbullah, Op.Cit, h.114
[5] Hasbullah, SejarahPendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Grafindo Persada, 1995), h.95
[6] Hasbullah, Loc.Cit, h.114
[7] Kutoyo, Loc.Cit, h.43
[8] Hasbullah, Op.Cit, h.114-115
[9] Kutoyo, Op.Cit, h.43
[10] Hasbullah, Op.Cit, h.115
[11] Kutoyo, Op.Cit, h.44
[12] Kutoyo, Ibid, h.44-45
[13] Hasbullah, Loc.Cit, h.115
[14] Hasbullah, Loc.Cit, h.115-116
[15] Suwito dan Fauzan, Loc.Cit, h.325
[16] Hasbullah, Op.Cit,h.116
[17] Kutoyo, Loc.Cit, h.45-46.
[18] Suwendi, Op.Cit, h.92.
[19] Suwito dan Fauzan, Loc.Cit, h.332-333




[1] Sutrisno Kutoyo, Kiai Haji Ahmad Dahlan dan penyerikatan Muhammadiyah, (Jakarta : Balai Pustaka, 1998), h.40
[2] Deliar Noer, Gerakan Moderen dalam Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta : LP3ES, 1985), h.85
[3] Op.Cit,h.40
[4] Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta : Grafindo Persada, 1996), h.133
[5] Kutoyo, Loc.Cit, h.40
[6] Hasbullah, Op.Cit, 133

Tidak ada komentar:

Posting Komentar