Jumat, 29 April 2011

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA DALAM HATI DENGAN PENDKATAN KOMUNIKATIF PADA SISWA KELAS VI SD MELALUI METODE RESITASI


ABSTRAK
Pembelajaran Bahasa Indonesia sangat penting dan mendasar untuk dikuasai dan diminati dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Namun kenyataannya antusias siswa termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek membaca sangat rendah. Rendahnya prestasi tersebut terjadi pada siswa kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Desa Gunungputri Kecamatan Banjar Kabupaten Pandeglang terbukti dari hasil ulangan formatif atau sumatif menunjukkan rata-rata dibawah 60%. Sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia termasuk pada pembelajaran pokok.
Untuk mengatasi masalah tersebut, dapat diupayakan melalui peningkatan kemampuan membaca dalam hati dengan pendekatan komunikatif melalui metode Resitasi.  Dengan menggunakan pendekatan komunikatif melalui metode Resitasi tersebut adalah salah satu alternatif upaya meningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menciptakan situasi pembelajaran berpusat pada anak dan berorientasi pada proses mengembangkan kemampuan komunikasi pada aspek kebahasaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan komunikatif melalui  metode resitasi, dimana dilakukan melalui 2 siklus dapat disimpulkan sebagi berikut ; a). Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup sinifikan., peningkatannya yaitu 28,56% pada pertemuan pertama dan 53,55% pada pertemuan kedua di  siklus I, dan 70,55% pada pertemuan terakhir (ke tiga)  82,11% di siklus II.     b). Hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatif banyak peningkatan baik dalam ketuntasan belajar maupun hasil belajar.  Hal ini didasari pada tingkat ketuntasan belajar 86,66% di siklus I dan 100 % di siklus II. Sedangkan nilai rata-rata kelas dalam pemahaman membaca dalam hati  yaitu 78,09 di siklus I dan 86,38 di siklus II.



PENDAHULUAN
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi) saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain dengan meningkatkan kemampuan intelektual mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan keterampilan berbahasa.
Sesuai dengan kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional dan Bahasa Negara, maka fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah :
1. Sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa.
2. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
3. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa untuk meraih dan pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.
4. Sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah dan sarana pengembangan penalaran pembelajaran Bahasa Indonesia tersebut mencakup empat aspek, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut sebaiknya mendapat posisi yang seimbang.
        Pembelajaran Bahasa Indonesia sangat penting dan mendasar untuk dikuasai dan diminati dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Namun kenyataannya antusias siswa  termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar  pada aspek membaca sangat rendah.
        Rendahnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar  dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain  kurang antusiasnya siswa dalam belajar membaca dan kelemahan guru dalam menggunakan pendekatan/strategis belajar mengajar bahasa intosi yang kurang tepat baik metode maupun penggunaan metode  kurang, serta  guru sangat dominan pembelajaran terpusat pada guru sedangkan siswa pasif.
Untuk mengatasi masalah tersebut,  penulis  akan memberikan gambaran bagaimana upaya guru dalam kegiatan belajar mengajar  membaca dalam hati pada siswa sekolah dasar dengan pendekatan komunikatif.
Dengan menggunakan pendekatan komunikatif  diharapkan  dapat meningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menciptakan situasi pembelajaran berpusat pada anak dan berorientasi pada proses mengembangkan kemampuan komunikasi pada aspek kebahasaan.
Berdasarkan pada masalah-masalah yang penulis kemukakan di atas, maka penulis menetapkan judul makalah adalah “Pendekatan Komunikatif  Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Di  Sekolah Dasar”
.
METODOLOGI
Faktor yang diteliti  dalam penelitian ini adalah pemahaman dan hasil belajar melalui aktifitas kelas dan hasil belajar pada pembelajaran membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia  di kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan Banjar
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pretes, dan postes pada tiap siklus dan dilengkapi jurnal harian ( catatan harian).
Seluruh kegiatan dalam proses pembelajaran tidak semuanya tercantum dalam lembar observasi. Oleh karena itu dilengkapi lagi dengan jurnal harian/catatan harian yang merupakan alat bantu perekam yang paling sederhana. Perilaku khusus siswa di guru maupun permasalahan yang dapat dijadikan pertimbangan bagi pelaksanaan langkah-langkah berikutnya bisa dicatat dalam jurnal harian tersebut. Dalam jurnal inipun dimasukan  catatan mengenai kegiatan guru  yang berlangsung di kelas.
Data tes hasil belajar Bahasa Indonesia  pada pembelajaran membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi berupa data kuantitatif yang diperoleh melalui pretes sebelum diadakan tindakan pada masing-masing siklus dan postes setelah berakhirnya tindakan  setiap siklus baik di suklus I  maupun siklus II. Hal ini dimaksudkan agar setiap berakhirnya  di setiap siklus dapat diketahui kemajuan perkembangan yang didapat oleh siswa membaca dalam melalui pendekatan komunikatif . Data hasil tes tersebut bisa dijadikan acuan, pertimbangan, bahan refleksi, untuk merencanakan pelaksanaan pada siklus berikutnya.  Perlu diketahui bahwa soal yang diberikan  sebagai alat untuk mengetahui hasil belajar ini, sudah mengalami validasi dengan guru kelas VI lainya di SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan/Kabupaten Banjar.
         Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan yaitu  menilai hasil tidakan dengan menggunakan lembar observasi, dan tes kemampuan pemahaman terhadap isi wacana dengan  membaca dalam hati pretes dan postes serta membadingkan perolehan skor antara pretes dan postes tersebut untuk mengetahui  seberapa besar peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa. Adapun lembar observasi memuat hal-hal yang dilakukan siswa tentang aktivitas dan keaktifannya. Aktivitas yang diamati diantaranya adalah; bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan guru atau teman sekelas, menyanggah dan mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan
Pelaksanaan observasi ini dibantu pula dengan alat bantu sederhana yaitu jurnal harian. Jurnal harian ini meupakan catatan harian sehingga dapat berfungsi sebagai rekaman pengamatan yang sangat efektif. Dalam jurnal harian memuat catatan-catatan yang terjadi selam proses pembelajaran yang berlangsung dalam satu kali pertemuan.
 Setelah selesai tindakan dilakukan pada siklus I, selanjutnya diadakan kegiatan refleksi yang bertujuan sebagai evakuasi dari tindakan tersebut yaitu mengkaji apa yang telah dan atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil  dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Selain itu,  pada kegiatan refleksi ini diadakan pertemuan bersama kolabulator  dan partisipan untuk membahas hasil evaluasi tentang RPP, LKS dan lain-lain.

HASIL PENELITIAN
      Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan hasil implementasi dari kegiatan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatifdalam  upaya meningkatkan pemahaman dan hasil belajarmembaca dalam hati pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VI SD Negeri Gunungputri 2 Kecamatan Banjar di semester genap tahun ajaran 2008/2009.
       Pelaksanaan penelitian ini terbagi menjadi 2 siklus. Siklus I  terdiri dari 2 kali pertemuan, dan siklus II terdiri dari 1 kali pertemuan. Di awal setiap siklus I pada pertemuan pertama diadakan pretes I dan postes I pada akhir pertemuan pertam, dan pada siklus I pertemuan kedua di akhir siklus I dilakukan postes II setelah proses pembelajaran berlangsung atau setelah di beri tindakan. Jenis soal, jumlah soal dan lamanya penegjaan dari pretes dan postes adalah sama. Dengan demikian dari hasil pretes dan postes tersebut baik di siklus I maupun siklus II dapat terlihat seberapa besar peningkatan pemahaman dan hasil belajar siswa membaca dalam hati melului pendekatan komunikatif dengan metode resitasi

Pelaksanaan Siklus I
       Pada pertemuan pertama di siklus I, yaitu hari Rabu Tanggal 11. Februari 2009 dilakukan proses pembelajaran yang mengacu kepada RPP yang telah disiapkan, diawali penjelasan guru pentingnya belajar membaca dalam hati , yang dibantu dengan menampilkan wacana dalam buku pelajaran bahasa Indonesia,  siswa mnmenyimak penjelasan guru ,sehingga siswa  mempunyai gambaran pengenai pembahasan materi pembelajaran yaitu membaca dalam hati  yang akan diajarkan guru.
         Selanjutnya guru membagi kelompok, kemudian memberikan materi pembelajaran tentang membaca dalam hati. Melalui diskusi kelompok siswa membahas masalah yang terjadi dari hasil pembahasan guru.

1. Aktivitas Belajar
        Untuk mengetahui pemahaman yang dicapai siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung diamati beberapa aktivitas siswa, diantaranaya aktivitas dalam memperhatikan lisan maupn tulisan pada saat mengejakan soal di papan tulis, Pada pertemuan pertama ini belum nampak adanya aktivitas siswa yang mencolok, namun siswa lebih cenderung penjelasan guru, bertanya kepada guru , menjawab pertanyaan baik untuk memperhatikan penjelasan guru, melihat gambar-gambar yang ditampilkan guru.
         Berdasarkan dari data lembar observasi, diperoleh 15 orang siswa ( 50 % ) memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru, 6 orang siswa ( 20 % )  yang aktivitas dalam pembahasan tugas 12 orang siswa ( 40% ) Mendengarkan penjelasan ketua kelompok 18  orang siswa ( 60 % )  tanya jawab dalam kelompok 12 0rang siswa ( 40 % ) Peran aktif dalam kelompok 6 orang siswa ( 20 % ) , adanya anggota kelompok berperan aktif dalam pembahasan 6 orang siswa ( 20 % ) adanya respon siswa menyambut pertanyaan guru 15 orang siswa ( 50 %) . Prosentase aktivitas siswa seca keseluruhan pada siklus I pertemuan pertama mencapai 53,55%
         Pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari Kamis  Tnggal 14 Februari 2009, Guru melakukan kegiatan preses belajar mengajar yang mengacu pada RPP yang telah  dipersiapkan. Guru membahas materi pembelajaran yaitu tentang membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatuf.
          Berdasarkan dari data lembar observasi, diperoleh 28 orang siswa ( 93 % ) memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru, 24 orang siswa ( 80 % )  yang aktivitas dalam pembahasan tugas 24 orang siswa ( 80% ) Mendengarkan penjelasan ketua kelompok 23 orang siswa ( 76 % )  tanya jawab dalam kelompok 23 0rang siswa ( 76 % ) Peran aktif dalam kelompok 23 orang siswa ( 76 % ) , adanya anggota kelompok berperan aktif dalam pembahasan 18 orang siswa ( 60 % ) adanya respon siswa menyambut pertanyaan guru 15 orang siswa ( 50 %) .  Prosesentase aktivitas belajar siswa secara keseluruhan pada kegiatan siklus I pertemuan kedua mencapai 70,55%

2. Hasil Belajar membaca dalam hati
          Pada awal kegiatana penelitian, sebelum pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus I, yaitu pada hari Rabu tanggal 11 Februari 2009, siswa diberikan tes awal berupa pretes I  yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diadakan proses pembelajaran tentang pemahaman membaca dalam hati  . Hasil pretes I ternyata diperoleh skor nilai rata-rata 57,1 dan prosentase ketuntasan belajar sebesar 53,33%, yaitu 16 orang  siswa yang sudah tuntas dari 30 siswa.
        Walaupun demikian skor nilai ini masih dianggap wajar, karena memang belum diajarkan ( belum dilakukan proses pembeljaran di kelas, tetapi siswa hanya belajar sendiri dari buku sumber tanpa adana penjelasan  dari guru
Berdasarkan hasil pretes I yang diperoleh, yaitu ketuntasan belajar hanya 53,33 %, maka dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam melakukan suatu upaya untuk meningkatkan  kemampuan membaca dalah hati melalui pendekatan komunikatif dengan metode resitasi.
         Setelah proses pembelajaran yang berlangsung di siklus I sebanyak 1 kali pertemuan, maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar  setelah diberi tindakan, siswa diberikan postes I yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Februari  2009. Berdasarkan hasil dari postes I diperoleh skor nilai rata-rata 60,80 dan prosentse ketuntasan belajar mencapai 60 % yaitu sebanyak 18 siswa yang sudah tuntas dan 12 orang siswa yang belum tuntas
          Setelah proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus I pertemuan kedua, maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar setelah dilakukan tindakan, siswa diberikan postes II
          Berdasarkan hasil dari postes II diperoleh skor nilai rata-rata 78,83 dan prosentse ketuntasan belajar mencapai 86,66 % yaitu sebanyak 26  siswa yang sudah tuntas dan 4  orang siswa yang belum tuntas.

3. Refleksi
       Secara kseluruhan aktivitas belajar di siklus I meningkat dari 53,55 % menjadi 70,55%, Dan aktivitas kelas termasuk katagori aktif, ( aktivitas kelas sudah berkisar 50% - 75 % ). Namun masih ada beberapa  jenis aktivitas yang masih dianggap rendah, yaitu aktivitas dalam hal menyambut pertanyaan guru. Oleh karena itu  masih perlu ada pendekatan guru terhadap  siswa untuk bisa merangsang atau menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa dengan cara belajar yan maksimal dan menjelaskan hal ini masih sedang tarap belajar.
        Adapaun hasil belajar yang diperoleh melalui postes I, setelah berakirnya pembelajaran pada pertemuan pertama  di siklus I, diperoleh skor nilai rata-rata kelas sebesar 60,80 dan nilai rata-rata kelas dari postes  II pada siklus I partemuan kedua yaitu 78,83 dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 70,55%. Apabila dibandingkan dengan hasil pretes I diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 57,10 dan peningkatan prosentase ketuntasan belajar sebesar 53,55 %. Peningkatan ini cukup besar dan bisa dikatakan memenuhi katagori berhasil, karena siswa yang mencapai nilai  di atas 60 ( diatas KKM yang telah ditetapkan) sudah lebih dari 80,66 %
           Dengan demikian, bahwa pengaruh proses pembeljaran melalui pendekatan komunikatif  dalam pembelajaran membaca dalam hati  cukup besar, sehingga dapat meningkatkan  meningkatkan aktivitas belajar  dan hasil belajar siswa. Untuk itu, perlu diertahankan dan dikembangkan  dalam proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya di siklus II.
Pelaksanaan Siklus II
1. Pemahaman  kemampuan membaca dalam hati melalui pendekatan komunikatif  dengan metode Resitasi
        Mengacu kepada RPP yang telah dipersiapkan, pertemuan pertama pada siklus II yang dilaksakan pada hari Sabut tanggal 16 Februari 2009, dilanjutkan kembali  proses pembelajaran mengenai materi membaca dalam hati ( sebagai pendalaman materi ). Prosentase aktivitas  secara keseluruhan  meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu  dari 70,55 % menjadi 81,44 % . Peningkatan nya sebesar 9,11 % .
Prosentase aktivitas secara keseluruhan meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu dari 70,55 % menjadi 81,44 % dan pada pertemuan akhir  menjadi 82,11% Peningkatannya sebesar 11,56 %.

2.       Hasil Belajar Kemampuan Membaca Dalam Hati
         Setelah pembelajaran dilakukan sebanyak 1 kali pertemuan, diperoleh hasil postes III dengan ketuntasan belajar sebesar 100 % dan nilai rata-rata sebesar 86,36  Kenaikan dari pretes ke postes sebesar 29,26 % dan kenaikan nilai rata-rata sebesar 81,00
Demikian juga postes I di siklus I dan postes II di siklus I serta postes III di siklus II terdapat peningkatan ketuntasan belajar sebesar 100  % dan peningkatan skor nilai rata-rata kelas naik dari 60,80 menjadi 78,83 dan menjadi 86,36

3. Refleksi
         Seteah proses pembelajaran yang dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II, maka  berdasarkan analisis data kegiatan siswa ( Kemampuan Membaca Dalam Hati ) diperoleh peningkatan  aktivitas siswa yang cukup berarti. Seperti pada tabel berikut ini :
Tabel. 1
Prosentase aktivitas kelas pada Kemampuan membaca dalam hati
Siklus
Siklus I
Siklus II
Pertemuan
1
2
1
Proses
Aktivitas
Kelas (%)
53,55
70,55
82,11

         Peningkatan prosentase aktivitas  kelas ini, ternyata bisa terwujud apabila proses pembelajarannya melalui pendekatan komunikatif
Adapun hasil belajar ( ketuntasan belajar dan skor nilai rata-rata ) yang diperoleh setelah proses pembelajaran di siklus I dan siklus II melalui postes I dan postes II dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel. 2 
Prosentase Ketuntasan Belajar Membaca Dalam Hati
Siklus
Prestes
Postes
Perbedaan
I
53,33%
60 %
2,70 %


86,66%
33,33 %
II

100%
46,67%



Tabel. 3
Skor Nilai Rata-rata Kelas Kemampuan Membaca Dalam Hati
Siklus
Skor Nilai
Rata-rata Pretes
Skor Nilai
Rata-rata Postes
Perbedaan
I
57,10
60,80
3.70


78,09
20,99
II

86,36
29,26

          Dari tabel di atas diperoleh adanya temuan bahwa hasil belajar dari pretes I dan hasil postes I pada siklus I perbedaannya sangat kecil hal ini terjadi karena siswa masih belum memahami cara membaca dalam hati yang baik dan benar ,sedangkan di siklus II hasil belajar melalui prostes III perbedaan nilai pretes dan postes cukup tinggi dikarenakan pembelajaran di siklus  II adalah kelanjutan dari pembelajaran sebagai pendalaman dalam pemahaman kemampuan dalam kemampuan membaca dalam hati di siklus I. Di Prediksi bahwa siswa telah memiliki konsep dasar (konsep awal) dari pembelajaran di siklus I.

Kesimpulan
        Berdasarkan analisis, temuan dan pembahasan penelitian tindakan  tentang pemahaman siswa terhadap hasil membaca dalam hati  melalui pendekatan model komunikatif dengan metode resitasi pada siswa kelas VI sekolah dasar, peneliti mencoba memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran membaca dalam hati  di kelas VI, aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup sinifikan. Hal ini di dasari dari hasil pengamatan selama berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar dari setiap pertemuan baik di siklus I maupun pada siklus II, peningkatannya yaitu 28,56% pada pertemuan pertama dan 53,55% pada pertemuan kedua di  siklus I, dan 70,55% pada pertemuan terakhir ( ke tiga )  82,11% di siklus II.
2. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca dalam hati , melalui pendekatan komunikatif banyak peningkatan baik dalam ketuntasan belajar maupun hasil belajar.  Hal ini didasari dari hasil pengolahan data, yaitu pada tingkat ketuntasan belajar 86,66% di siklus I dan 100 % di siklus II. Sedangkan nilai rata-rata kelas dalam pemahaman membaca dalam hati  yaitu 78,09 di siklus I dan 86,38 di siklus II.
DAFTAR PUSTAKA

·         Basuki Wibawa,dkk, 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Depniknas Dirjen Dimenum, Jakarta
·         Depdiknas, (2008) Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, UNJ, Jakarta
·         Dinn Wahyudin dkk,(1995), Pengantar Pendidikan, Universitas Terbuka, Jakarta
·         Hendi Guntur Tarigan (1986),. Membaca Suatu Keterampilan Berbahasa, Angkasa  Bandung
·         Kosadi Hidayat (1995), Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia, Bina Cipta,Bandung
·         Mochlisoh, (1991), Pendididikan Bahasa Indonesia, Depdikbud, Jakarta
·         Puji Santosa dkk, (1990), Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD, Universitas Terbuka, Jakarta
·         Sudirman, dkk, (1984), Ilmu Pendidikan, Rosda Karya, Bandung
·         Suharsimi Arikunto,  Duharjono,Supardi, (2006) Penelitian TindakanKelas, Bumi Aksara, Jakarta 
·         Udin S Winataputra dkk, (1991), Teori dan Pembalajaran, Universitas Terbuka, Jakarta

Kamis, 28 April 2011

Coretan Hati

Disini aku berdiri,....... di dalam sepi
Tiada saudara yang menemani, hanya teman yang mengerti.
Saudara ku pergi menghilang, meninggalkan ku seorang
Rintihan tajam membayang dalam kesedihan
 
Pedih perih,,,,.....tak terhingga
Dengan cucuran air mata
Kudengar do'a ibunda di Tanah sebrang
ingatkan pada putranya yang lara 

Betapa panjang penghalang yang membentang
Betapa curam jurang yang melintang
Tetapi,....... aku percaya
langkah ku pasti akan JAYA

Duka lara bersama air mata
Detup jantung yang semakin mereda
Kuserahkan senua ini pada-NYA
ya ALLAH,........... Tuhanku Yang Esa


Kamis, 21 April 2011

BIOGRAFI K.H AHMAD DAHLAN


A.  Riwayat Hidup K.H Ahmad Dahlan
K.H Ahmad Dahlan dilahirkan di kampung Kauman, Yogyakarta tanggal dan bulan kelahirannya tidak ada catatan yang pasti. Tetapi mengenai tahunnya adalah 1285 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1968 Masehi.[1] Sumber lain ada yang menyebutkan pada tahun 1969.[2] Ketika masih kanak-kanak, beliau bernama Mohammad Darwis. Beliau dilahirkan dari satu keluarga yang taat beragama Islam. Ayahnnya bernama K.H Abu Bakar bin K.H Sulaiman, pejabat masjid di kesultanan Yogyakarta.[3]
Menurut buku Eyang Abdurrahman, Plasakuning, Yogyakarta, silsilah keturunan K.H Ahmad Dahlan dari garis ayahnnya dapat ditelusuri sampai Maulana Malik Ibrahim yang juga dikenal dengan nama Syekh Maghribi yang dalam sejarah merupakan mubaligh pertama yang meyiarkan agama Islam di pulau jawa (Jawa Timur) dengan carannya yang bijaksana, penuh keramah tamahan, sopan santun dan budi bahasa yang halus.[4] Sedangkan dari pihak ibunnya berasal dai Kiai Mohammad Ali – K.H Hasan – H. Ibrahim,[5] yang merupakan pejabat penghulu kesultanan. Melihat garis ketturunannya ini maka dapat dikatakan bahwa beliau anak orang yang beradadan berkedudukan baik di masyarakat.[6] Beliau merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara, yang terdiri dari lima perempuan dan dua laki-laki, diantarannya :
beradadan berkedudukan baik di masyarakat.[1] Beliau merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara, yang terdiri dari lima perempuan dan dua laki-laki, diantarannya :
1.      Nyai Chatib Arum
2.      Nyai Muhsinah (nyai Nur)
3.      Nyai Haji Sholeh
4.      Mohammad Darwis (KH Ahmad Dahlan)
5.      Nyai Abdurrahaman
6.      Nyai H.Mohammad Fekih (ibunda H. Ahmad Badawi)
7.      Mohammad Basyir.[2]
Karena sudah tiga kali KH. Abu Bakar selalu memperoleh anak perempuan maka betapa gembira hatinnya dengan kehadiran Mohammad Darwis sebagai anak laki-laki yang pertama dalam keluarga. Tentu ayahnnya amat sayang kepada Mohammad Darwis, demikian pula ibu dan kakak-kakaknya semua menyayanginnya. Meskipun demikian, Mohammad Darwis tidak menjadi anak manja. Ia penurut dan patuh terhadap perintah dan kehendak orang tuannya dan tidak sering berselisih dengan kakak-kakaknnya.
Mohammad Darwis juga menaruh hormat kepada anggota keluargannya yang lain seperti paman, nenek, kakek dan lain-lain. Selama masa kanak-kanak kehidupan Mohammad Darwis penuh kegembiraan. Ia sering bermain-main dengan kawan-kawannya. Mereka senang bergaul dengan Mohammad Daewis karena ia seorang anak yang jujur dan suka menolong. Ia jarang dan tidak begitu suka berkelahi. Teman-temannya tidak pernah mengganggu Mohammad Darwis, dan begitupun sebaliknnya. Bahkan, apabila teman-temannya saling berselisih, Mohammad Darwis sering sekali berusaha untuk melerai dan mendamaikan. Tetapi kalau ia di hina, tentu akan melawan. Mohammad Darwis juga anak yang berani dank eras dalam memertahankan kebenaran.
Memeng kawan-kawannya mencintai Mohammad Darwis. Lagi pula, Darwis mempunyai kelebihan lain. Ia pandai membuat barang mainan. Darwis juga berbakat teknik. Hasil karyannya itu tidak digunakan untuk dirinnya sendiri, tetapi dimanfaatkan oleh teman-temannya secara bersama-sama. Karena itu kawan-kawannya bertambah senang kepadannya. Sejak masa kanak-kanak, jiwa social telah bersemi pada diri Mohammad Darwis. Bekal kejiwaan itulah, yaitu jiwa kemasyarakatan, social dan ketekunan disertai oleh jiwa keberanian dan keagamaan yang dibawa dan dikembangkannya dalam hidupnnya sesudah dewasa merupakan amal perjuangan. Kebiasaan masa kanak-kanak tetap membekas di dalam jiwa Mohammad Darwis.[3]
K.H Ahmad Dahlan pernah kawin dengan Nyai Abdullah, janda dari H. Abdullah, pernah juga kawin dengan Nyai Rumu (bibi prof . A. Kohar Muzakir), adik ajengan penghulu Cianjur, dan konon beliau juga pernah kawin dengan Nyai Solikah, putrid kanjeng peghulu M. Syar’I, adiknnya Pakualam Yogya. Dan terakhir kawin dengan Siti Walidah (diakui sebagai pahlawan nasional) binti KH. MohammadFadhil (penghulu) bin Ibrahim, yang tak lain adalah sepupu KH Ahmad Dahlan sendiri. Yang mendampinginnya hingga meninggal dunia bertepatan dengan tanggal 23 Februari 1923 Masehi, bertepatan dengan 7 Rajab 1340 Hijriyah di Kauman Yogyakarta dalam usia 55 Tahun,[4] beliau terkenal dengan Nyai Ahmad Dahlan.
B. Latar Belakang Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
Semasa kecilnya, Ahmad Dahlan tidak berstudi di sekolah formal, hal ini karena sikap orang-orang Islam pada waktu itu melarang anak-anaknnya memasuki sekolah Gubermen.[5] Oleh karena itu sebagaimana gantinnya Ahmad Dahlan diasuh dan di didik mengaji oleh ayahnnya sendiri.[6] Ia senang melihat orang belajar mengaji al-Qur’an dan ilmu agama. Ia tertarik pada masalah agama. Setiap petang, Mohammad Darwis mengaji dengan tekun. Mohammad Darwis mulai belajar mengaji sekitar tahun 1875, ketika menginjak usia 7 tahun. Pendidikan Mohammad Darwis adalah pendidikan pesantren. Pada waktu itu tidak ada anak-anak Kauman yang belajar di sekolah Gubernemen yang dianggap menyimpang bahkan kafir.[7]
Kemudian beliau meneruskan pelajaran mengaji tafsir dan hadis serta bahasa Arab dan fikih kepada beberapa ulama di Yogyakarta dan sekitarnnya. Setelah itu barulah beliau dimasukan ke sekolah dasar yang mempelajari materi-materi sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnnya. Setelah dia dewasa dan telah menyelesaikan pendidikannya di pesantren Yogyakarta dan sekitarnnya, dengan bantuan kakaknnya yang bernama KH. Shaleh.[8] Pada usia 15 tahun, yaitu pada tahun 1883, Mohammad Darwis berangkat ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5,[9] sekaligus melanjutkan studinnyauntuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam, seperti seni membaca al-Qur’an, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, ilmu hokum dan ilmu falaq (perbintangan).[10] Sekembalinnya dari kota Mekah, kira-kira ia berusia 20 tahun dan namannya diubah menjadi H. Ahmad dahlan
Pada akhir abad ke- 19, jarak antara Mekah dengan Yogyakarta masih terasa jauh. Alat komunikasi satu-satunya ialah yang belum modern pula. Pada waktu itu belum ada pesawat terbang. Orang Indonesia yang berangkat haji belum sebanyak seperti sekarang hitungannya, apalagi yang menetap di Mekah untuk belajar jumlahnnya tidak banyak. Tekad meninggalkan tanah air dan pergi ke luar negri untuk menuntut ilmu seperti yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan pada masa remaja remaja menunjukan bahwa beliau termasuk pemuda yang berani, tabah menderita dan bercita-cita tinggi. Hanya orang yang demikian yang dapat mengatasi kesulitan dan menjadi pemimpin, karena sejak muda beliau telah menunjukan sikap dan pemikiran sebagai seorang pemimpin.[11]
Selama berstudi di Mekah, tampaknnya tafsi Al-Manar yang tidak lain dikarang oleh Muhammad Abduh, mendapat perhatian serius dan yang paling digemarinnya. Tafsir ini memberikannya cahaya terang dalam hatinnya serta membuka akalnnya untuk berfikir jauh ke depan tentang eksistensi Islam di Indonesia, yang pada waktu itu masih sangat tertekan dari penjajah Belanda, ketika belajar di Mekah itulah ia juga dapat berkesempatan untuk dapat bertukar fikiran langsung dengan Rasyid Ridha, yang terkenal sebagai pembaharu Islam pada masanya. Pengalaman-pengalaman inilah yang mendorong ia tertarik untuk mengadakan perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan kaum muslimin di Indonesia.[12]
Ketika beliau berada di mekah, beliau membuat terobosan baru dengan membuat tanda shaff dalam masjid agung dengan memakia kapur, tanda yang beliau berikan bertujuan untuk memberikan gambaran gambaran arah kiblat yang benar dalam masjid. Namun hal itu mendapat perlawanan dari petugas masjid setempat dan dengan cepat membersihkan lantai masjid dan tanda shaff yang dituliskan oleh beliau.
K.H Ahmad Dahlan sunguh-sunguh dalam mempelajari Ilmu, beliau banyak mempunyai kitab agama. Hamper semua kitab yang dipakai dalam berbagai pesantren sebagai kitab wajib atau perpustakaan yang dimiliki beliau secara pribadi. Beliau selalu mengikuti arus perkembangan ilmu, kitab-kitab terbitan baru dan karangan alim uama belakangpun selalu diikuti dengan seksama, beliau timbang-timbang dan kaji dengan teliti. Boleh dikatakan bahwa beliau merupakan seorang intelektual atau cendikiawan agama pada waktu itu.[13]
Dalam riwayat hidupnnya akan terbukti bahwa Kiai membaca buku sekedar menambah ilmu tetapi dari bacaan-bacaan itu dipetik hikmahnya untuk jalan atau dasar amal nyata bagi kehidupan umat dan umat islam pada khususnya. Bagi K.H Ahmad Dahlan, belajar atau membaca buku bukan untuk sekedar intelektualisme, tetapi di praktekan, diterapkan dalam kehidupan yang sebenarnnya. Kaena itu, dapat dimengerti mengapa KH Ahmad Dahlan itu tidak meninggalkan buku-buku yang berisi renungan, analisis, maupun ilmu yang tinggi-tinggi tentang kegagamaan.
Tujuan mengangsu ilmu dari buku-buku memang tidak untuk menimbulkan kitab baru meskipun hal seperti itu adalah juga diperlukan, tetapi untuk mengambil pokok-pokok pikiran guna bertindak, berbuat dan beramal. Itulah kepribadian KH Ahmad Dahlan yang langsung menjawab permasalahan realitas kehidupan.
Sepulangnnya dari Mekah, yang pertama dilakukan beliau adalah mengganti namannya menjadi Ahmad Dahlan, yang diambil dari seorang mufti yang terkenal dari mazhab Syafe’I di Mekah, yaitu Ahmad bin Zaini Dahlan.[14]
Setelah itu ia memberikan pengajaran kepada berbagai macam sekolah (pesantren). Beliau mengajar ke beberapa kota sambil menawarkan penjualan batiknnya kepda setiap orang. Hal ini dilakukan guna membantu kesulitan orang tuannya.
Adapun sebagai ulama Islam, beliau merupakan seorang yang memiliki otak berlian dan jiwa toleran yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pribadinnya yang memberikan perhatian utamannya pada kehidupan  religious, ketidak efisienan pendidikan agama, aktifitas misionais Kristen dan sikap anti agama dari kaum cerdik pandai. Dari sinilah beliau disebut sebagai pemimpin yang memiliki komitmen yang tinggi kepada sikap moderat dan toleransi agama.[15]
Setelah ayahnya wafat, beliau menggantikan kedudukannya, dan diangkatlah beliau oleh Sri Sultan menjadi khatib masjid besar Kauman Yogyakarta dan dianugrahi gelar Khatib Amin dikarenakan pengetahuan dan pengalaman beliau yang dianggap lebih luas. Sambil berdagang batik, beiau menyebarkan agama dan terus mengajar. Beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun  1903, beliau kembali ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji lagi. Sepulangnnya dari naik haji inilah ia mendapat sebutan Kiai dari masyarakatnnya, dan sejak itulah dimana-mana beliau dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan.[16]
Dalam hal ini menarik juga untuk dikemukakan bahwa 90 tahun kemudian (tahun 1989), di Indonesia masih dilontarkan suara terhadap para ulama sebagai berikut : “Ulama akan semakin ditinggalkan untuknnya jika tidak bias menerjemahkan keagamaan secara kontekstual untuk menjawab permasalahan realitas kehidupan.” Cara menjawab permasalahan mutakhir dengan sekedar memproduksi rujukan “kitab kuning” tidak mencukupi lagi. Lagi pula, diantara para ulama kurang bersikap keritis, padahal ulama dahulu saling mengadakan keritik, misalnnya Al-Ghazali dengan Ibnu Rusdi. Hendaknnya seorang ulama itu menjadi ulama intelektual sekaligus “Intelektual agama”.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, KH Ahamd Dahlan pada awal abad ke-20 sudah menyadari sinyalemen seperti itu. KH Ahmad Dahlan sudah merintis cara baru dalam membina umat, yaitu bersama-sama mengamalkan ayat demi ayat al-Qur’an yang sudah dibaca, dihafal dan difahami kedalam tindakan nyata.[17]
Pengalaman pendidikannnya, sejak dari pesantren hingga studi di Mekah, memungkinkan beliau untuk melakukan pembaharuan dalam pergerakan Islam di Indonesia, karena melihat banyaknnya pengalaman keislaman masyarakat menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan al-hadis. Begitu pula pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan telah merangsang beliau untuk melakukan pembaharuan, termasuk dalam bidang pendidikan. Meskipun ia aktif dalam bidang pendidikan dan da’wah keagamaan, tetapi kegiatan sehari-hari KH Ahmad Dahlan adalah berdagang yang mengharuskannya bepergian ke berbagai kota dan desa.[18]
C. Latar Belakang Sosial KH Ahmad Dahlan
Secara tradisional, seseorang dipengaruhi factor geografis yang menunjukan bahwa latar belakang social berpengaruh terhadap proses pendewasaaannya. Kampung Kauman sebagai tempat kelahiran Darwis kecil terkenal sebagai daerah lingkungan santri. Menurut pandangan Pijper, Kauman yang terletak di dekat masjid yang besar memnungkinkan sebagai penjelmaan dari keinginan untuk dekat kepada sesuatu “yang suci”.
KH Ahmad Dahlan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Kauman, dan oleh karena itu sangat dipengaruhi oleh tradisi social daerah tersebut. Pengaruh itu nampak dari kebiasaan-kebiasaannya yang ulet dalam memperdalam pengetahuan keagaman.
Darwis sejak kecilnnya tidak dididik pada lembaga pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda, karena barang siapa yang memasukan anaknnya ke sekolah tersebut akan dianggap sebagai orang kafir karena telah memasuki pola kehidupan kafir Belanda. Namun berarti Darwis tidak menuntut pengetahuan sebagai alternative, oleh ayahnnya ia di didik sendiri melalui cara pengajian. Ketika beliau telah dianggap memiliki pengetahuan keislaman yang cukup beliau kemudian dikenal untuk belajar pada beberapa guru mengaji yang lain. Pada saat itu (abad 19) memang berkembang tradisi mengirimkan anak kepada guru untuk menuntut ilmu. Pada saat itu menurut Steer Brink ada lima kata gori guru: guru ngaji Qur’an, guru kitab, guru tarekat, guru ilmu gaib dan guru yang tidak menetapp di suatu tempat.
Sebagai seorang ulama, beliau berusaha untuk mendalami terus ilmu yang ditekuni dengan tidak mengabaikan keluargannya. Melalui usahannya yang semakin maju beliau memperoleh perluasan cakrawala berfikir karena pada saat itu sambil mempromosikan barang dagangannya beliau mendatangi para ulama setempat untuk bertukar fikiran. Dialog-dialog keagamaan telah mendorong beliau untuk mengembangkan berbagai pemikiran tentang re-orientasi pengamalan ajaran agama secara benar, sesuai dengan semangat dan ajaran aslinnya. Meskipun pemikiran ini memperoleh tanggapan yang berbeda-beda.[19]
Dari uraian diatas, ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dalam beajar mendidik dan bermasyarakat. Sikap dan sifat beliau yang istiqamah, bersemangat dan toleran dalam hidup merupakan modal dasar dalam perjuangan beliau untuk merubah realitas kehidupan di masyarakat yang dianggap konservatif terhadap perubahan positif. Al-hasil dari semua yang beliau perjuangkan menarik banyak perhatian masyarakat sehingga beliau dijuluki dengan gelar al-amin.




[1] Hasbullah, Op.Cit, 133
[2] Kutoyo, Op.Cit, h.41-42
[3] Ibid, h,42-43
[4] Hasbullah, Op.Cit, h.114
[5] Hasbullah, SejarahPendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Grafindo Persada, 1995), h.95
[6] Hasbullah, Loc.Cit, h.114
[7] Kutoyo, Loc.Cit, h.43
[8] Hasbullah, Op.Cit, h.114-115
[9] Kutoyo, Op.Cit, h.43
[10] Hasbullah, Op.Cit, h.115
[11] Kutoyo, Op.Cit, h.44
[12] Kutoyo, Ibid, h.44-45
[13] Hasbullah, Loc.Cit, h.115
[14] Hasbullah, Loc.Cit, h.115-116
[15] Suwito dan Fauzan, Loc.Cit, h.325
[16] Hasbullah, Op.Cit,h.116
[17] Kutoyo, Loc.Cit, h.45-46.
[18] Suwendi, Op.Cit, h.92.
[19] Suwito dan Fauzan, Loc.Cit, h.332-333




[1] Sutrisno Kutoyo, Kiai Haji Ahmad Dahlan dan penyerikatan Muhammadiyah, (Jakarta : Balai Pustaka, 1998), h.40
[2] Deliar Noer, Gerakan Moderen dalam Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta : LP3ES, 1985), h.85
[3] Op.Cit,h.40
[4] Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta : Grafindo Persada, 1996), h.133
[5] Kutoyo, Loc.Cit, h.40
[6] Hasbullah, Op.Cit, 133